Pada lebaran kemarin, suasana terasa begitu menyenangkan. Namun di balik itu, lebaran ini adalah lebaran pertama setelah aku resmi bercerai. Rasanya tentu berbeda dengan lebaran tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya aku masih menjalani sidang perceraian dan merasa kalut. Sekarang, rasanya lebih lega meski ada suatu hal yang hilang.
Memiliki keluarga yang lengkap adalah impianku. Aku ingat saat sedang ikut training potensi diri aku harus menggambarkan impianku, dan yang kugambarkan adalah pernikahan, S2 di Belanda dan menjadi dosen. Di usia setelah lulus kuliah aku telah memimpikan hal-hal yang besar untuk hidupku. Ketiga hal tersebut aku perjuangkan meski susah payah dan harus menempuh jalan berliku. Akhirnya aku bisa S2 di Belanda, meski harus apply beasiswa berkali-kali. Sayangnya pernikahan berakhir pada tahun kelima. Aku masih bermimpi ingin menjadi dosen, dan masih meniti jalan menuju hal tersebut.
Kembali lagi tentang keluarga, aku pikir aku adalah family woman, yang mengutamakan keluarga. Sebelum menikah, aku juga berkeluarga dengan baik. Keluargaku lengkap dan utuh, bisa dibilang harmonis. Makanya aku agak sulit beradaptasi dengan kehidupan setelah perceraian ini. Rasanya cukup sulit dan berat. Menjadi ibunya Ziyad seorang diri, tanpa suami. Harus mencari nafkah sendiri. Sampai sekarang hampir setahun pun aku masih merasa kesulitan.
Saat momen-momen tertentu seperti kumpul keluarga, hati ini jujur merasa sedih melihat keluarga lain yang lengkap. Tapi aku tersenyum di luar. Aku memang ingin memiliki keluarga normal seperti keluarga lain. Namun kembali ini adalah pilihan yang aku pilih sendiri. Aku berusaha mandiri dengan kondisi saat ini. Beruntung aku punya orangtua dan saudara-saudara yang baik dan mengerti kondisiku. Aku harap suatu saat aku bisa mewujudkan pernikahan impianku dan menjalani hidup bahagia kembali.
Comments