Skip to main content

Masa remajaku yang penuh lika-liku

Remaja, kata orang merupakan masanya pencarian jati diri. Aku sendiri juga merasakannya. Setelah mengenyam Pendidikan SD dan SMP di sekolah Islam, akhirnya aku merasakan sekolah di SMA Negeri. Ini merupakan syarat dari orang tuaku, harus bersekolah islam dahulu baru boleh masuk sekolah negeri agar lebih memahami agama dan mungkin agar tidak salah pergaulan. Maklum, aku tinggal di kota Bandung, kota besar dengan berbagai macam orangnya.

Maka perjalananku masuk SMA dimulai. Aku masuk SMA dengan niat belajar dan beraktivitas. Aktivitasku di sekolah Islam sebelumnya lebih terbatas. Hanya ada beberapa ekstrakulikuler pilihan dan satu ekstrakulikuler wajib yaitu paskibra. Karena itu, aku merasa penasaran dengan bagaimana sekolah di sekolah negeri.

Saat pertama kali masuk SMA, aku hanya memiliki beberapa orang teman dari SMP yang sama. Jujur aku merasa kaget saat melihat teman-teman baru yang lebih beragam di sekolah. Dahulu temanku semuanya berkerudung, dan yang laki-laki juga cukup baik-baik. Mulanya aku hanya diam saja karena merasa canggung, meski akhirnya berkenalan dengan malu-malu. Susah payah aku mendapatkan teman di sekolah ini, karena aku pikir mereka orangnya gaul-gaul. Aku sempat kesulitan mendapatkan teman dan cenderung menyendiri di kelas.

Lama kelamaan, aku mulai menyesuaikan diri dengan kondisi pertemanan di sekolah. Aku beruntung mempunyai sahabat sejak SMP yang melanjutkan sekolah di SMA yang sama. Karena aku akan bersekolah di sekolah ini selama tiga tahun, aku harus bisa berbaur dengan teman-teman yang lain. Meski dengan teman-teman sekelas aku masih sulit bergaul, aku mendapatkan teman-teman dari kelas lain.

Aktif berorganisasi

Karena hal tersebut, aku semakin terpacu untuk lebih aktif mencari teman. Saat itu juga karena aku masih remaja, masih ada rasa ingin eksis di sekolah. Maka aku ikut beberapa kegiatan organisasi, seperti rohis dan OSIS serta kegiatan lainnya. Memang aku lebih merasa semangat untuk sekolah, dan juga lebih aktif mengikuti kegiatan sepulang sekolah. Untuk mengimbangi aktivitasku yang duniawi, aku juga mengikuti mentoring dari rohis di sekolah.

Ternyata aku merasa nyaman dengan teman-teman di organisasi, sehingga aku tidak lagi merasa malu atau takut bergaul. Memang butuh waktu untuk beradaptasi, tapi aku bersyukur aku akhirnya mendapat teman-teman baik semasa SMA. Teman-teman di organisasi ini yang akhirnya menemaniku selama tiga tahun sekolah di SMA ini. Beberapa orang temanku di kelas juga akhirnya menjadi teman baikku setelah aku lebih membuka diri di sekolah.

aku dan teman-temanku saat sekolah


Comments

Popular posts from this blog

Aku dan perjuanganku di ITB

  Institut Teknologi Bandung merupakan kampus impian bagi banyak orang. Bagiku yang saat itu sedang SMA, masuk ITB juga merupakan hal yang aku impikan. Selain itu, ada beberapa kampus yang juga aku impikan. Mungkin karena aku masih SMA, masih remaja dan kadang labil dalam memilih tempat kuliah. Hari ini ingin kuliah farmasi, besok ingin sastra jepang, besoknya lagi ingin kuliah teknik. Pada akhirnya aku mengikuti beberapa ujian masuk kuliah di beberapa universitas untuk meningkatkan peluang masuk. Salah satu fakultas yang kuincar di ITB adalah SAPPK yang merupakan singkatna dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan. Awalnya aku ingin masuk fakultas ini karena kedua orangtuaku berprofesi sebagai arsitek dan perencana kota. Aku melihat kedua orangtuaku sebagai role model untuk pekerjaanku kelak. Namun, saat itu aku lebih tertarik menjadi arsitek karena senang melihat rumah yang bagus dari majalah-majalah milik ibuku. Dengan berbekal kerja keras mengikuti bi...

Keluarga yang lengkap

Pada lebaran kemarin, suasana terasa begitu menyenangkan. Namun di balik itu, lebaran ini adalah lebaran pertama setelah aku resmi bercerai. Rasanya tentu berbeda dengan lebaran tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya aku masih menjalani sidang perceraian dan merasa kalut. Sekarang, rasanya lebih lega meski ada suatu hal yang hilang. Memiliki keluarga yang lengkap adalah impianku. Aku ingat saat sedang ikut training potensi diri aku harus menggambarkan impianku, dan yang kugambarkan adalah pernikahan, S2 di Belanda dan menjadi dosen. Di usia setelah lulus kuliah aku telah memimpikan hal-hal yang besar untuk hidupku. Ketiga hal tersebut aku perjuangkan meski susah payah dan harus menempuh jalan berliku. Akhirnya aku bisa S2 di Belanda, meski harus apply beasiswa berkali-kali. Sayangnya pernikahan berakhir pada tahun kelima. Aku masih bermimpi ingin menjadi dosen, dan masih meniti jalan menuju hal tersebut. Kembali lagi tentang keluarga, aku pikir aku adalah family woman, yang mengutamakan ke...