Institut Teknologi Bandung merupakan kampus impian bagi banyak orang. Bagiku yang saat itu sedang SMA, masuk ITB juga merupakan hal yang aku impikan. Selain itu, ada beberapa kampus yang juga aku impikan. Mungkin karena aku masih SMA, masih remaja dan kadang labil dalam memilih tempat kuliah. Hari ini ingin kuliah farmasi, besok ingin sastra jepang, besoknya lagi ingin kuliah teknik. Pada akhirnya aku mengikuti beberapa ujian masuk kuliah di beberapa universitas untuk meningkatkan peluang masuk.
Salah satu fakultas yang kuincar
di ITB adalah SAPPK yang merupakan singkatna dari Sekolah Arsitektur,
Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan. Awalnya aku ingin masuk fakultas ini
karena kedua orangtuaku berprofesi sebagai arsitek dan perencana kota. Aku
melihat kedua orangtuaku sebagai role model untuk pekerjaanku kelak. Namun,
saat itu aku lebih tertarik menjadi arsitek karena senang melihat rumah yang
bagus dari majalah-majalah milik ibuku.
Dengan berbekal kerja keras
mengikuti bimbel USM dan belajar setiap hari, akhirnya aku masuk ITB! Rasanya
sangat senang karena aku bisa masuk salah satu kampus impianku di SMA dulu. Setelah
melewati masa Tahap Persiapan Bersama (TPB) dengan susah payah, aku harus
memilih jurusan yang aku inginkan. Aku dikenalkan dengan kedua jurusan di dalam
fakultas tersebut, yaitu Arsitektur dan Perencanaan Wilayah dan Kota, atau
planologi. Karena berkenalan dengan jurusan planologi, aku jadi penasaran untuk
survey ke kota-kota di Indonesia, dan juga ingin bekerja sekaligus jalan-jalan.
Akhirnya aku berputar haluan dari
jurusan arsitektur ke planologi. Di akhir TPB, aku mendapat pengumuman bahwa
aku masuk jurusan planologi.
Di jurusan ini aku menemukan
banyak hal yang kusenangi. Aku survey ke beberapa kota untuk tugas studio. Aku
juga mengikuti himpunan dan berorganisasi dengan teman dan kakak kelas. Masa
ini sangat menyenangkan dan aku mendapatkan banyak memori yang baik. Aku merasa
memilih jurusan yang tepat untukku sendiri.
Kuliah di ITB merupakan hal yang
sangat membanggakan untukku. Kedua orangtuaku pun bangga dan kerap
menceritakannya pada orang lain. Kenyataannya, lumayan sulit juga untuk kuliah
di ITB. Apalagi untuk menjaga nilai agar bisa bagus. Aku berusaha untuk belajar
dengan baik dan selaras dengan kegiatan organisasi. Namun, terkadang ada
masanya aku kesulitan, bahkan aku sempat mengulang satu mata kuliah karena
pelajarannya cukup sulit.
Pada tahun keempat, aku
dinyatakan lulus dari ITB dengan predikat memuaskan. Kerja kerasku selama empat
tahun membuahkan hasil. Kedua orangtuaku bangga padaku karena bisa lulus dari
kampus ternama ini. Meski sudah lulus dari ITB, perjuanganku belum berakhir
karena aku membawa nama baik kampus ini sebagai alumni. Hingga kini, masa
kuliahku selalu menjadi kenangan yang indah untuk dikenang.
Comments