Skip to main content

mau jurusan apa?

oke. diliat dari judulnya aja udah ketauan.
post aku yang sekarang berhubungan ma jurusan pilihan aku.
masa depan aku.

misalnya, kalo aku salah mi ih jurusan, terus nggak suka pelajaran2nya. terus di DO. terus nganggur. terus gak punya rumah. terus terlunta-lunta di jalanan. terus gak bisa makan.
hua. NIGHTMARE abis.

*lebay mode: on

jadi intinya, aku harus mikir-mikir-mikir secara bener-bener. buat nentuin jurusan yang paling-paling dipengenin.
apalagi aku udah kelas 3. jadi harus udah tau jurusan yg dituju.
secara, kalo kita ngobrol ma temen. pasti selalu berujung pada obrolan tentang kuliah.

kuliah lagii. kuliah lagii.
misalnya. lagi ketemu seseorang di kantin, anggap aja susi *nama samaran*.
susi : eh dzila. hei
dzila : hei susi. lagi mau beli apa?
susi : mau beli jus nih. eh.
dzila : apa?
susi : nanti mau masuk mana?

oke. selalu. kapanpun dimanapun. oke bukannya kapanpun sih. kita gak bakal ngomongin soal kuliah kalo kita lagi sibuk di wc. atau kalo kita lagi ngegosip soal cowok.
Tapi kayaknya pembicaraan tentang kuliah udah menjamur dan udah meracuni otak seluruh warga SMA Negeri yang tercinta ini, terutama yang sedang duduk di bangku kelas 3. bahkan di waktu senggang pun, selalu ada celah untuk mengobrolkan masalah perkuliahan.
mau milih apa nanti? IPA atau IPC?

aduh, kayaknya jurusan ini passing gradenya tinggi banget.

mending mana ya, unpad atau itb?

aku mau ikut USM deh.

tau gak, katanya biologi prospeknya gede lho.


menurut aku, setiap jurusan bukannya ada yang bagus, ada yang jelek.
Tapi tiap jurusan itu punya kelebihan masing-masing.
Yang penting sih kalo kita mau milih jurusan itu:

1. Dengerin kata hati kita sendiri. wong yang mau kuliah kita.
bukan orang lain. lagian kalo dengerin hati orang lain, dikira orang gila lagi *krik.
jangan nunggu sampe hati kita ngomong dulu. tapi usahain kita yang ngertiin diri kita sendiri.

2. Cari minat yang kamu sukain. Nah, tapi susahnya di sini. Kadang-kadang, banyak malah orang yang tau bakatnya sendiri. Jangan sampe kita termasuk golongan mereka. Kita punya masa SMA, manfaatin itu baik-baik. Di SMA ada banyak ekskul yang bisa kita ikutin. Kalo kita jago ngegambar, ada ekskul seni rupa. Dan kita bisa kuliah di FSRD. Kalo kita jago sepakbola, masuk ekskul bola? kuliahnya? hheu. masuk PERSIB aja. Bahkan terkadang ketika kita masuk sebuah ekskul, sekalipun kita nggak jago. Kita bisa belajar. Dan justru di ekskul tersebut kita akan menemukan bakat kita.

3. Kalau kita tetep nggak tau minat kita. Masih ada cara kok. Banyak. Sekarang kan udah jamannya modernisasi (bener g sih?) Kita browsing di internet dan cari tau tentang universitas2 di seluruh indonesia. Cari tau selengkap-lengkapnya. Mulai dari lokasinya, suasananya, fasilitasnya, prospek kerjanya. Pokoknya semuanyanya deh. Siapa tau, dari informasi-informasi tersebut ada yang bikin hati kamu kepincut. websitenya itb (www.itb.ac.id)
Oia, informasi universitas2 itu gak cuma bisa didapetin di internet lo! Bisa juga kita dapet di brosur-brosur yang tersebar di sekitar sekolah. Atau, kalo ada insitusi yang bikin open house gitu, dateng aja. Ajak temen-temen kamu. Di sana kita bisa dapet banyak banget informasi.

4. Setelah kita udah mikirin jurusan apa yang diinginkan, tanya ke orang-tua. Boleh mamah, boleh ayah, boleh dua-duanya. Nanya ke orangtua itu penting lho. Siapa tau mereka bisa ngasih saran, atau bahkan memberi alternatif yang gak pernah kepikiran oleh kita. Lagian, bagaimanapun juga keluarga adalah orang yang terdekat dengan kita. Kalau kita harus ngambil keputusan sepenting ini, yang harus pertama tau adalah orangtua.

5. Setelah kita dapetin nih list jurusan apa aja yang kita inginkan, baru kita bikin skala prioritas *hha, sok2 ekonomi gitu. Apakah ini lebih kita sukai? Apakah ini lebih cocok untuk kita? Apakah kita bakal nyaman di sini? Terus, dari list tersebut kita pertimbangkan, mana yang bisa kita coret, mana yang bisa disimpan di paling atas list. Point ini yang terpenting, soalnya banyak yang gegabah mengambil universitas yang populer dan memiliki passing grade tinggi, namun berujung pada drop-out karena tidak nyaman berada di sana. Dan jangan lupa, dari sekian banyak jurusan yang kita inginkan, kita hanya bisa memilih 2 untuk pilihan IPA dan 3 untuk pilihan IPC.

JADI, tunggu apalagi!
aku udah nentuin.
pengen masuk farmasi ITB!
ITB here I come! wait for me! !

yang pengen masuk ITB, kita ketemu di sana ya.. amiin

Comments

salmabudiman said…
aku juga mau ITB...
hahai..


SUKSES Sista!! x)
Nusaiba Adzilla said…
sip sal!
ketemu di sana!

okei? hhe.

farmasi.farmasi.farmasi
Anonymous said…
Ak tunggu di itb.
Nusaiba Adzilla said…
hha. iya kang tom

wait for me!

hho. pgn ngerasain jalan2 di itb, beli souvenir itb di tokema, sholat maghrib di salman.

*ngebayangin
elgiganteng said…
good

dtunggu deh......
Anonymous said…
Ntar ak deh panitia ospeknya. Hehe
Nusaiba Adzilla said…
hha. klw kg tom jd panitia ospek.
gak jadi ah. ahaha

k elgiganteng: iy. tunggu aj.
gitadine said…
dne udah nanya ayah sama bunda.

ayah: kedokteran aja k.
dne: BEH. liat darah aja dne pingsan. * ok ini lebay.
ayah: farmasi.
dne: dne bisa mati ngerjain kimia.
ayah: ekonomi aja ekonomi. di universitas asing di jakarta.
dne: hah ekonomi?
ayah: iya ekonomi. tapi ayah nggak bisa bayarnya. mahal.
dne: ... dne tanya bunda ajalah.

bunda: bunda sih terserah dne aja.
dne: *cerah ceria* sastra inggris aja ya bun!
bunda: eh, jangan.
dne: *berpikir* sastra jepang..?
bunda: jangan sastra.
dne: terus apa dong?
bunda: psikologi aja, psikologi.
dne: ... yang katanya terserah dne mana?
bunda: ... udah psikologi ajalah.

YASUDAHLAH. lagian pengen juga kok ke psikologi hahahah.

UNPADUNPADUNPADUNPADUNPAD. aamin.
Nusaiba Adzilla said…
dne, aku baru baca komen kamu. kenapa g jadi unpad? kenapa?
KENAPAA?

Popular posts from this blog

Aku dan perjuanganku di ITB

  Institut Teknologi Bandung merupakan kampus impian bagi banyak orang. Bagiku yang saat itu sedang SMA, masuk ITB juga merupakan hal yang aku impikan. Selain itu, ada beberapa kampus yang juga aku impikan. Mungkin karena aku masih SMA, masih remaja dan kadang labil dalam memilih tempat kuliah. Hari ini ingin kuliah farmasi, besok ingin sastra jepang, besoknya lagi ingin kuliah teknik. Pada akhirnya aku mengikuti beberapa ujian masuk kuliah di beberapa universitas untuk meningkatkan peluang masuk. Salah satu fakultas yang kuincar di ITB adalah SAPPK yang merupakan singkatna dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan. Awalnya aku ingin masuk fakultas ini karena kedua orangtuaku berprofesi sebagai arsitek dan perencana kota. Aku melihat kedua orangtuaku sebagai role model untuk pekerjaanku kelak. Namun, saat itu aku lebih tertarik menjadi arsitek karena senang melihat rumah yang bagus dari majalah-majalah milik ibuku. Dengan berbekal kerja keras mengikuti bi...

Keluarga yang lengkap

Pada lebaran kemarin, suasana terasa begitu menyenangkan. Namun di balik itu, lebaran ini adalah lebaran pertama setelah aku resmi bercerai. Rasanya tentu berbeda dengan lebaran tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya aku masih menjalani sidang perceraian dan merasa kalut. Sekarang, rasanya lebih lega meski ada suatu hal yang hilang. Memiliki keluarga yang lengkap adalah impianku. Aku ingat saat sedang ikut training potensi diri aku harus menggambarkan impianku, dan yang kugambarkan adalah pernikahan, S2 di Belanda dan menjadi dosen. Di usia setelah lulus kuliah aku telah memimpikan hal-hal yang besar untuk hidupku. Ketiga hal tersebut aku perjuangkan meski susah payah dan harus menempuh jalan berliku. Akhirnya aku bisa S2 di Belanda, meski harus apply beasiswa berkali-kali. Sayangnya pernikahan berakhir pada tahun kelima. Aku masih bermimpi ingin menjadi dosen, dan masih meniti jalan menuju hal tersebut. Kembali lagi tentang keluarga, aku pikir aku adalah family woman, yang mengutamakan ke...

Masa remajaku yang penuh lika-liku

Remaja, kata orang merupakan masanya pencarian jati diri. Aku sendiri juga merasakannya. Setelah mengenyam Pendidikan SD dan SMP di sekolah Islam, akhirnya aku merasakan sekolah di SMA Negeri. Ini merupakan syarat dari orang tuaku, harus bersekolah islam dahulu baru boleh masuk sekolah negeri agar lebih memahami agama dan mungkin agar tidak salah pergaulan. Maklum, aku tinggal di kota Bandung, kota besar dengan berbagai macam orangnya. Maka perjalananku masuk SMA dimulai. Aku masuk SMA dengan niat belajar dan beraktivitas. Aktivitasku di sekolah Islam sebelumnya lebih terbatas. Hanya ada beberapa ekstrakulikuler pilihan dan satu ekstrakulikuler wajib yaitu paskibra. Karena itu, aku merasa penasaran dengan bagaimana sekolah di sekolah negeri. Saat pertama kali masuk SMA, aku hanya memiliki beberapa orang teman dari SMP yang sama. Jujur aku merasa kaget saat melihat teman-teman baru yang lebih beragam di sekolah. Dahulu temanku semuanya berkerudung, dan yang laki-laki juga cukup baik...