Skip to main content

sebuah percakapan di resto terkenal di bandung

Kami sekeluarga sedang keranjingan sarapan di sebuah resto. Kebetulan, di resto tersebut ada paket sarapan yang selain enak, harganya cukup terjangkau di kalangan masyarakat menengah.
Alhasil, dalam beberapa weekend kami sering makan di sana.

Suatu hari, di counter minuman resto tersebut.
seorang ibu muda : Mas, mas di sini bisa mesen minuman ya?
mas-mas resto : iya bu, bisa (dalam hati'jelas-jelas ada minuman di sini')
ibu muda : mba, mau minum apa?
mba cantik : itu mah..yang di tengah. jambu bkn?
ibu muda : iya kayaknya. tanya aja. itu jambu bukan mas?
mas-mas resto : iya bu. itu guava.
*berpikir, apa bedanya jambu ma guava*

*ding
mba cantik : yaudah guavanya satu. *ikut2an sok keren*
mas-mas resto : iya de. *sambil sok sibuk beresin gelas
ibu muda : kalo yang putih-putih sebelah jambu apa?
mas-mas resto : oo, itu fresh milk bu.

*ding

pemberitahuan : bagi yang tidak tau fresh milk itu apa, cari di kamus. dan kalo tetep gak ketemu juga, fresh milk itu sama artinya dengan susu segar.

Sepertinya di resto tersebut ada aturan, 'bagi yang mesen minuman diharuskan memakai bahasa inggris, atau jika tidak maka pegawai kami akan mentranslatekannya untuk anda'

huh. resto yang baik sekali


oia. ibu muda = mamah aku
mba cantik adalah tidak lain dan tidak bukan penulis blog ini. hoho.

Comments

salmabudiman said…
aah itu mah si mas-masnya ajah...
hahaha///


dimana tuh? dimana tuh?

kalo aku pesen lotek , dia pasti bingung mau bilang apa.. kakakaka...


hmm asik juga minum guava... jadi pengen./..
Anonymous said…
Narsisnya dzi. Haha
Nama restonya g dsebutin tuh. Soalnya resto plng murah yg prnah ak kunjungi cm dcost aja.
elgiganteng said…
yahaha.... so inggris gtu dey

dudul

btw... yg mana mba cantik???
heeee
gitadine said…
dari awal udah curiga.
mba cantik? mba cantik?

MBA CANTIIIK?

kasian lia punya kk kayak gini.. ckckck. * geleng" kepala.

hahahaha. :D

Popular posts from this blog

Aku dan perjuanganku di ITB

  Institut Teknologi Bandung merupakan kampus impian bagi banyak orang. Bagiku yang saat itu sedang SMA, masuk ITB juga merupakan hal yang aku impikan. Selain itu, ada beberapa kampus yang juga aku impikan. Mungkin karena aku masih SMA, masih remaja dan kadang labil dalam memilih tempat kuliah. Hari ini ingin kuliah farmasi, besok ingin sastra jepang, besoknya lagi ingin kuliah teknik. Pada akhirnya aku mengikuti beberapa ujian masuk kuliah di beberapa universitas untuk meningkatkan peluang masuk. Salah satu fakultas yang kuincar di ITB adalah SAPPK yang merupakan singkatna dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan. Awalnya aku ingin masuk fakultas ini karena kedua orangtuaku berprofesi sebagai arsitek dan perencana kota. Aku melihat kedua orangtuaku sebagai role model untuk pekerjaanku kelak. Namun, saat itu aku lebih tertarik menjadi arsitek karena senang melihat rumah yang bagus dari majalah-majalah milik ibuku. Dengan berbekal kerja keras mengikuti bi...

Keluarga yang lengkap

Pada lebaran kemarin, suasana terasa begitu menyenangkan. Namun di balik itu, lebaran ini adalah lebaran pertama setelah aku resmi bercerai. Rasanya tentu berbeda dengan lebaran tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya aku masih menjalani sidang perceraian dan merasa kalut. Sekarang, rasanya lebih lega meski ada suatu hal yang hilang. Memiliki keluarga yang lengkap adalah impianku. Aku ingat saat sedang ikut training potensi diri aku harus menggambarkan impianku, dan yang kugambarkan adalah pernikahan, S2 di Belanda dan menjadi dosen. Di usia setelah lulus kuliah aku telah memimpikan hal-hal yang besar untuk hidupku. Ketiga hal tersebut aku perjuangkan meski susah payah dan harus menempuh jalan berliku. Akhirnya aku bisa S2 di Belanda, meski harus apply beasiswa berkali-kali. Sayangnya pernikahan berakhir pada tahun kelima. Aku masih bermimpi ingin menjadi dosen, dan masih meniti jalan menuju hal tersebut. Kembali lagi tentang keluarga, aku pikir aku adalah family woman, yang mengutamakan ke...

Masa remajaku yang penuh lika-liku

Remaja, kata orang merupakan masanya pencarian jati diri. Aku sendiri juga merasakannya. Setelah mengenyam Pendidikan SD dan SMP di sekolah Islam, akhirnya aku merasakan sekolah di SMA Negeri. Ini merupakan syarat dari orang tuaku, harus bersekolah islam dahulu baru boleh masuk sekolah negeri agar lebih memahami agama dan mungkin agar tidak salah pergaulan. Maklum, aku tinggal di kota Bandung, kota besar dengan berbagai macam orangnya. Maka perjalananku masuk SMA dimulai. Aku masuk SMA dengan niat belajar dan beraktivitas. Aktivitasku di sekolah Islam sebelumnya lebih terbatas. Hanya ada beberapa ekstrakulikuler pilihan dan satu ekstrakulikuler wajib yaitu paskibra. Karena itu, aku merasa penasaran dengan bagaimana sekolah di sekolah negeri. Saat pertama kali masuk SMA, aku hanya memiliki beberapa orang teman dari SMP yang sama. Jujur aku merasa kaget saat melihat teman-teman baru yang lebih beragam di sekolah. Dahulu temanku semuanya berkerudung, dan yang laki-laki juga cukup baik...