Skip to main content

Eid Al-Adha


My Family :D


Eid Al-Adha, or in Indonesia we called idul adha, is a big day when many moslems from all around the world gather in Makkah, and do the Islam ritual, Hajj. And moslems who didnt do Hajj, sacrifice an goat or sheep and then share it with poor members of the community.

I celebrated the Eid day with my whole family. Actually my father almost happen not to celebrate it with us, because he got a sudden work to Binjai, Medan. He had to go from Bandung at 8 am by travel. We were dissapointed, because our father must work in this big day, which happens once a year. We couldn't bake the sate together, do the Ied pray together, or just went to a restaurant and ate together.
But, my father had an idea to go to a restaurant on Sunday night, a day before Eid Al-Adha. We agreed, and went to BMK at ciwalk. So, my father can do both of them, gather with family and do the work at Ied day.

In the D-day, we prepared to do Eid pray at Cipaganti mosque. This time was different by the other years, usually we do the pray in the field near our house. Cipaganti Mosque is really near from Cipaganti travel (of course, i t's in the same street). My father went to Medan by Cipaganti travel. After we did the pray, we took our father to the travel. Then we went home and ate laksa that were made by mother. We relaxed much, until afternoon then took a walk to Gramedia.

Overall, the Eid-Al Adha was fun. It was really great to have a one day free from study and spend all our time with family.
Me and my sisters in white.

In Cipaganti travel, with my father's friends.


Comments

siSAIIAH said…
heY,

can you send m some meats?

i'm starving...

=)
Nusaiba Adzilla said…
hha. the eid is already past.
i don't have meat anymore XD

wew. what about ur ied day mi?

Popular posts from this blog

Aku dan perjuanganku di ITB

  Institut Teknologi Bandung merupakan kampus impian bagi banyak orang. Bagiku yang saat itu sedang SMA, masuk ITB juga merupakan hal yang aku impikan. Selain itu, ada beberapa kampus yang juga aku impikan. Mungkin karena aku masih SMA, masih remaja dan kadang labil dalam memilih tempat kuliah. Hari ini ingin kuliah farmasi, besok ingin sastra jepang, besoknya lagi ingin kuliah teknik. Pada akhirnya aku mengikuti beberapa ujian masuk kuliah di beberapa universitas untuk meningkatkan peluang masuk. Salah satu fakultas yang kuincar di ITB adalah SAPPK yang merupakan singkatna dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan. Awalnya aku ingin masuk fakultas ini karena kedua orangtuaku berprofesi sebagai arsitek dan perencana kota. Aku melihat kedua orangtuaku sebagai role model untuk pekerjaanku kelak. Namun, saat itu aku lebih tertarik menjadi arsitek karena senang melihat rumah yang bagus dari majalah-majalah milik ibuku. Dengan berbekal kerja keras mengikuti bi...

Keluarga yang lengkap

Pada lebaran kemarin, suasana terasa begitu menyenangkan. Namun di balik itu, lebaran ini adalah lebaran pertama setelah aku resmi bercerai. Rasanya tentu berbeda dengan lebaran tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya aku masih menjalani sidang perceraian dan merasa kalut. Sekarang, rasanya lebih lega meski ada suatu hal yang hilang. Memiliki keluarga yang lengkap adalah impianku. Aku ingat saat sedang ikut training potensi diri aku harus menggambarkan impianku, dan yang kugambarkan adalah pernikahan, S2 di Belanda dan menjadi dosen. Di usia setelah lulus kuliah aku telah memimpikan hal-hal yang besar untuk hidupku. Ketiga hal tersebut aku perjuangkan meski susah payah dan harus menempuh jalan berliku. Akhirnya aku bisa S2 di Belanda, meski harus apply beasiswa berkali-kali. Sayangnya pernikahan berakhir pada tahun kelima. Aku masih bermimpi ingin menjadi dosen, dan masih meniti jalan menuju hal tersebut. Kembali lagi tentang keluarga, aku pikir aku adalah family woman, yang mengutamakan ke...

Masa remajaku yang penuh lika-liku

Remaja, kata orang merupakan masanya pencarian jati diri. Aku sendiri juga merasakannya. Setelah mengenyam Pendidikan SD dan SMP di sekolah Islam, akhirnya aku merasakan sekolah di SMA Negeri. Ini merupakan syarat dari orang tuaku, harus bersekolah islam dahulu baru boleh masuk sekolah negeri agar lebih memahami agama dan mungkin agar tidak salah pergaulan. Maklum, aku tinggal di kota Bandung, kota besar dengan berbagai macam orangnya. Maka perjalananku masuk SMA dimulai. Aku masuk SMA dengan niat belajar dan beraktivitas. Aktivitasku di sekolah Islam sebelumnya lebih terbatas. Hanya ada beberapa ekstrakulikuler pilihan dan satu ekstrakulikuler wajib yaitu paskibra. Karena itu, aku merasa penasaran dengan bagaimana sekolah di sekolah negeri. Saat pertama kali masuk SMA, aku hanya memiliki beberapa orang teman dari SMP yang sama. Jujur aku merasa kaget saat melihat teman-teman baru yang lebih beragam di sekolah. Dahulu temanku semuanya berkerudung, dan yang laki-laki juga cukup baik...