Skip to main content

tumblr vs blogspot

sekarang saya punya tumblr. Tumblr rame banget, lumayan nagih. Dan sejak punya tumblr ga pernah nulis di blog. Blog ini juga udah terlantar banget nasibnya, terakhir diisi setelah lulus SMA kayaknya.
Nah, di sini yang saya sayangkan adalah, sejak gak nulis di blogspot, saya ngerasa kemampuan menulis saya bener-bener turun. Dulu, ketika ada yang ingin diceritain saya langsung nulis di sini. Gak harus mikir, ini bakal kepanjangan ga ya buat ditulis.. ini menarik ga ya buat dibaca..
Yak, kalau nulis di tumblr, saya merasa kreativitas nulis saya berkurang. Kenapa? Dari pemikiran saya, tumblr ada followernya dan bisa dilike atau direblog orang lain. Itu memang yang jadi kelebihan tumblr. Tapi, ketika saya pengen menulis dan hanya ingin dilike atau direblog orang lain, itu bikin saya punya batasan. Topik yang dibahas harus menarik, menarik dengan kata lain cuma bisa topik-topik tertentu seperti kehidupan kuliah, obrolan-obrolan sehari-hari agar orang bisa membacanya.
Itu memang penting, tapi bener-bener, saya merasa kangen nulis di blogspot lagi. Setelah lumayan lama nulis di tumblr. Di sini saya merasa sangat bebas. Ketika habis nulis, saya ga perlu mikir orang bakal reblog ga ya. Atau cerita saya seru ga ya. Bener-bener ga ada masalah.
Di sini kita bisa nulis banyaak banget, mau nulis satu halaman juga ga masalah. Mau 4 halaman kaya esai juga ga masalah. Karena, ini blog milik saya sendiri. Mau ga ada yang baca juga gapapa. Yang penting, kita bisa melatih skill menulis kita dan kita bisa menuangkan apa yang kita pikirkan dalam bentuk tulisan.
Pusing ya?
Intinya sih, antara tumblr dan blogspot ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Saya ga mau bilang ini lebih bagus dari ini. Saya juga suka nulis di tumblr. Saya ngerasa dengan nulis di tumblr juga bisa bantu kita sharing pengalaman kita. Menulis itu bisa dimana aja, tapi untuk sekarang saya mau nerusin buat nulis di sini lagi..
KEEP WRITING!

Comments

Popular posts from this blog

Aku dan perjuanganku di ITB

  Institut Teknologi Bandung merupakan kampus impian bagi banyak orang. Bagiku yang saat itu sedang SMA, masuk ITB juga merupakan hal yang aku impikan. Selain itu, ada beberapa kampus yang juga aku impikan. Mungkin karena aku masih SMA, masih remaja dan kadang labil dalam memilih tempat kuliah. Hari ini ingin kuliah farmasi, besok ingin sastra jepang, besoknya lagi ingin kuliah teknik. Pada akhirnya aku mengikuti beberapa ujian masuk kuliah di beberapa universitas untuk meningkatkan peluang masuk. Salah satu fakultas yang kuincar di ITB adalah SAPPK yang merupakan singkatna dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan. Awalnya aku ingin masuk fakultas ini karena kedua orangtuaku berprofesi sebagai arsitek dan perencana kota. Aku melihat kedua orangtuaku sebagai role model untuk pekerjaanku kelak. Namun, saat itu aku lebih tertarik menjadi arsitek karena senang melihat rumah yang bagus dari majalah-majalah milik ibuku. Dengan berbekal kerja keras mengikuti bi...

Keluarga yang lengkap

Pada lebaran kemarin, suasana terasa begitu menyenangkan. Namun di balik itu, lebaran ini adalah lebaran pertama setelah aku resmi bercerai. Rasanya tentu berbeda dengan lebaran tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya aku masih menjalani sidang perceraian dan merasa kalut. Sekarang, rasanya lebih lega meski ada suatu hal yang hilang. Memiliki keluarga yang lengkap adalah impianku. Aku ingat saat sedang ikut training potensi diri aku harus menggambarkan impianku, dan yang kugambarkan adalah pernikahan, S2 di Belanda dan menjadi dosen. Di usia setelah lulus kuliah aku telah memimpikan hal-hal yang besar untuk hidupku. Ketiga hal tersebut aku perjuangkan meski susah payah dan harus menempuh jalan berliku. Akhirnya aku bisa S2 di Belanda, meski harus apply beasiswa berkali-kali. Sayangnya pernikahan berakhir pada tahun kelima. Aku masih bermimpi ingin menjadi dosen, dan masih meniti jalan menuju hal tersebut. Kembali lagi tentang keluarga, aku pikir aku adalah family woman, yang mengutamakan ke...

Masa remajaku yang penuh lika-liku

Remaja, kata orang merupakan masanya pencarian jati diri. Aku sendiri juga merasakannya. Setelah mengenyam Pendidikan SD dan SMP di sekolah Islam, akhirnya aku merasakan sekolah di SMA Negeri. Ini merupakan syarat dari orang tuaku, harus bersekolah islam dahulu baru boleh masuk sekolah negeri agar lebih memahami agama dan mungkin agar tidak salah pergaulan. Maklum, aku tinggal di kota Bandung, kota besar dengan berbagai macam orangnya. Maka perjalananku masuk SMA dimulai. Aku masuk SMA dengan niat belajar dan beraktivitas. Aktivitasku di sekolah Islam sebelumnya lebih terbatas. Hanya ada beberapa ekstrakulikuler pilihan dan satu ekstrakulikuler wajib yaitu paskibra. Karena itu, aku merasa penasaran dengan bagaimana sekolah di sekolah negeri. Saat pertama kali masuk SMA, aku hanya memiliki beberapa orang teman dari SMP yang sama. Jujur aku merasa kaget saat melihat teman-teman baru yang lebih beragam di sekolah. Dahulu temanku semuanya berkerudung, dan yang laki-laki juga cukup baik...