Menggunjing, mungkin sekarang orang lebih mengenalnya dengan menggosip. Menggunjing artinya membicarakan keburukan orang lain. Entah mengapa terjadi pergeseran makna, menggunjing terasa sangat kasar, sedangkan gosip terlihat sangat menyenangkan bagi siapapun yang melakukannya. Padahal menggosip itu sendiri bisa dibilang lebih parah, karena menggunjing yang bisa saja merupakan suatu kebenaran sudah buruk, apalagi menggosip yang tidak didasari fakta apa-apa.
Siapa yang sangka di balik kegiatan kecil tersebut ada dosa besar yang menghampiri?
Dalam Al-Quran jelas-jelas tertulis
"Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubah lagi Maha Penyayang," (Al-Hujarat: 12).
Setiap muslim adalah saudara, ketika kita menjelekkan orang lain terutama yang muslim, dianalogikan seperti memakan daging saudaranya sendiri. Sungguh menyedihkan. Mengapa menggunjing itu buruk, padahal mungkin merupakan suatu kebenaran? Karena kita telah membicarakan suatu hal yang dibenci oleh saudara kita, padahal Allah maha pemaaf dan mungkin saja orang yang digunjing telah bertaubat dan dimaafkan oleh Allah.
Saya baru-baru ini baca satu buku yang bagus, judulnya "Hidup yang Menakjubkan", penulisnya adalah Dr. Aidh Al-Qarni sama dengan penulis buku La Tahzan.
Menjelaskan mengenai orang yang digunjing. Dalam salah satu subbab dari buku tersebut, berjudul "Digunjing, berbahagialah!" Buku ini menjelaskan agar kita senantiasa menjadi orang yang pemaaf, bukan menjadi emosi ketika kita mendapatkan orang lain mengatakan hal buruk terhadap kita. Ada kisah yang menarik, Ada seorang lelaki menggunjing seorang ulama, lalu ulama tadi mengiriminya senampan korma, sambil berkata, "Dia memberikan pahala-pahalanya kepadaku, maka sebagai imbalannya aku hadiahkan korma kepadanya"
Sampai-sampai dikatakan dalam buku ini bahwa berbahagialah orang yang digunjing, karena itu berarti orang tersebut masih memiliki kedudukan sehingga ada yang memperhatikan. Subhanallah.
Sekian tulisan singkat dari saya, mulanya saya takut dalam menulis hal-hal keagamaan, karena ilmu saya masih sangat-sangat sedikit, namun berbagi merupakan sebah kebahagiaan, dan ilmu adalah hal yang harus dibagi. Kesalahan berasal dari saya, dan kebenaran sesungguhnya hanya berasal dari Allah SWT.
Siapa yang sangka di balik kegiatan kecil tersebut ada dosa besar yang menghampiri?
Dalam Al-Quran jelas-jelas tertulis
"Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubah lagi Maha Penyayang," (Al-Hujarat: 12).
Setiap muslim adalah saudara, ketika kita menjelekkan orang lain terutama yang muslim, dianalogikan seperti memakan daging saudaranya sendiri. Sungguh menyedihkan. Mengapa menggunjing itu buruk, padahal mungkin merupakan suatu kebenaran? Karena kita telah membicarakan suatu hal yang dibenci oleh saudara kita, padahal Allah maha pemaaf dan mungkin saja orang yang digunjing telah bertaubat dan dimaafkan oleh Allah.
Saya baru-baru ini baca satu buku yang bagus, judulnya "Hidup yang Menakjubkan", penulisnya adalah Dr. Aidh Al-Qarni sama dengan penulis buku La Tahzan.
Menjelaskan mengenai orang yang digunjing. Dalam salah satu subbab dari buku tersebut, berjudul "Digunjing, berbahagialah!" Buku ini menjelaskan agar kita senantiasa menjadi orang yang pemaaf, bukan menjadi emosi ketika kita mendapatkan orang lain mengatakan hal buruk terhadap kita. Ada kisah yang menarik, Ada seorang lelaki menggunjing seorang ulama, lalu ulama tadi mengiriminya senampan korma, sambil berkata, "Dia memberikan pahala-pahalanya kepadaku, maka sebagai imbalannya aku hadiahkan korma kepadanya"
Sampai-sampai dikatakan dalam buku ini bahwa berbahagialah orang yang digunjing, karena itu berarti orang tersebut masih memiliki kedudukan sehingga ada yang memperhatikan. Subhanallah.
Sekian tulisan singkat dari saya, mulanya saya takut dalam menulis hal-hal keagamaan, karena ilmu saya masih sangat-sangat sedikit, namun berbagi merupakan sebah kebahagiaan, dan ilmu adalah hal yang harus dibagi. Kesalahan berasal dari saya, dan kebenaran sesungguhnya hanya berasal dari Allah SWT.
Comments