Skip to main content

tentang ekskul-ekskul saya

Saya Dzila, sekarang kuliah di ITB, dulu sekolah di SMAN 2.
Saya mau cerita ketika saya masih sma, banyak banget kenangan yang ada di sma 2. menyenangkan. menyedihkan. seru. banyak teman.
Yang selalu saya ingat dari sma dulu, adalah ekskul (ekstrakulikuler) yang saya ikuti, sma 2 termasuk sekolah yang punya banyak ekskul. Untuk ukuran sma, ada sekitar 20-30 ekskul yang bisa diikuti.
Masa labil ketika masuk sma membuat saya selalu terkagum-kagum dengan apa yang ada di sma yang sebelumnya tidak ada di smp. Ketika smp, saya tidak ikut ekskul apapun, karena pilihannya terbatas, dan ada seleksi juga. Awal MPLS (masa pengenalan lingkungan sekolah bisa dibilang ospek) ada pengenalan ekskul dan saya terkagum-kagum dengan beragamnya ekskul.
Saya mendaftar banyak ekskul, yaitu DKM, karate, KIR. belakangan pada semester 1 akhir saya mendaftar KKS, yaitu klub konservasi sekolah. Lalu saya ikut seleksi OSIS, dan g tau kenapa bisa terpilih menjadi OSIS, padahal banyak yang lebih kompeten dari saya yang tidak masuk seleksi.
Ada juga kekhawatiran yang muncul, apakah sanggup mengemban 4 ekskul dan 1 organisasi sekaligus, sambil belajar juga. Tapi dijalanin saja, dan alhamdulillah lulus SMA dengan tepat waktu dengan nilai yang lumayan baik, dan bisa masuk universitas yang saya ingini, ITB.
Saya ingin cerita tentang beberapa ekskul yang saya ikuti:

pertama, DKM. Ini mulanya saya tidak terlalu tertarik. Kenapa harus ikut ekskul yang belajar tentang Islam lagi, padahal SD,SMP,SMA sudah belajar agama. Tapi waktu itu saya inget, saya SD, SMP di sekolah swasta Islam, kalau mau masuk SMA negeri harus masuk ekskul rohani sama orang tua saya, supaya bisa terjaga pertemanannya dan pemikirannya. Yaudah, setelah dijalanin banyak hal yang bisa dipelajari dan dilakukan. Belajar Islam tentunya melalui mentoring, lalu setiap tahun ada rihlah yang seru dan menyenangkan dengan semua angkatan. Punya temen-temen dari DKM, yang agak gaul juga. Karaokean juga. Main juga. Seneng pokoknya. Yang paling saya inget ada acara besar DKM, create nation. Sampai pulang malem beberapa hari buat nyiapin itu, tapi hasilnya memuaskan ya :) alhamdulillah.



Kedua, KKS. lagi main ke kelas X-I, terus ketemu gita. Pertamanya saya belum kenal gita, dikenalin sama nida. Tau-tau diajak sama gita buat ikut KKS. "Apa sih KKS?" pertama juga saya nanya gitu, beda dari ekskul lain yang udah dikenal. Terus dia jelasin kalau KKS itu klub konservasi sekolah. Dimana kita concern terhadap lingkungan. Banyak hal yang dilakuin di sini. Oke akhirnya saya mengangguk setuju. Karena saya emang tertarik sama konservasi lingkungan, siapa yang tega ngeliat bandung lingkungannya rusak? Dan pastinya setelah masuk, ikut banyak kegiatan-kegiatan di sini. Jadi aktif juga di sini. Anggotanya sedikit, kurang dari 10 orang angkatan saya, tapi malah jadi kompak banget. Dan menariknya di sini kita tergabung dalam konus (konservasi nusantara) yaitu gabungan dari KKS-KKS seluruh bandung. Selain SMA 2, ada juga SMA 21, SMKN 2, SMA 9, tentunya networking yang didapat di sini luas banget. Ada juga fasilitator yang kebanyakan alumni-alumni KKS. kegiatan rutinnya ada jalan-jalan seperti ke Tahura, Kebun Binatang, berkunjung ke KKS sekolah-sekolah lain. kegiatan tahunannya ada Jambore. Menyenangkan sekali jambore ini, karena banyak ilmu yang bisa didapat. Jambore biasanya diadakan agak jauh, sambil kemping. Di sana diajarin cara meneropong burung, cara buat peta hijau (green map), mengenal nama-nama tumbuhan dan hewan, dll.


Ketiga, Karate. Ini juga hampir sama seperti KKS, bisa dibilang klub minoritas (huhu :( ) kalau kks anggotanya hampir 10 di satu angkatan, karate anggotanya cumaa... 2 orang di angkatan saya! awalnya memang 5 orang, tapi satu persatu keluar. Tinggal ada saya dan Nony, yang akhirnya Nony jadi ketua karate dan saya jadi wakil ketua (haha). Saya paling aktif di karate sebenarnya dari semua ekskul. Mulanya masuk, saya amat sangat yakin akan keluar dalam waktu sebulan, karena latihannya itu, berat banget. Pertama latihan masih pemanasan, latihan kedua langsung lari 6 keliling tanpa sepatu di lapangan basket panas-panas -___-. Gak kebayang kan. Tapi kalau kata orang practice makes perfect, selain itu memang butuh pengorbanan buat menjadi sukses. Saya terusin, dan dari sabuk putih akhirnya bisa melaju hingga sabuk ungu strip 2, satu tingkat lagi cokelat. Sayangnya tidak bisa nerusin karena pada masa kepala sekolah Pak Teddy murid kelas 3 semester 2 tidak diperbolehkan aktif di ekskul Di kelas 2 saya beberapa kali ikut kejuaraan karate, walau gak pernah menang. haha. tapi selalu saya inget, karena rasanya seru dan macem-macem, ada sakitnya, ada senangnya, ada terharunya. Saya sebenernya orang yang males banget olahraga, tapi ketika itu ada motivasi dalam diri saya yang mendorong untuk meneruskan karate. Alhamdulillah. Menyenangkan. Waktu kelas 2 dan 3 SMA saya menarik banyak adik kelas untuk ikut karate, dan bisa mengajari mereka untuk beberapa kali pertemuan. Tapi belakangan ini saya dengar kalau ekskul karate di SMAN 2 dibubarkan saking sedikitnya anggotanya, sediih.
Terakhir KIR, tidak banyak yang bisa diceritakan karena saya tidak aktif di sini, saya masuk awal kelas satu, setelah itu tidak aktif, lalu ikut beberapa kegiatan di kelas 3.

Yang pasti, EKSKUL IS EXTREMELY FUN! rasanya sayang sekali kalau di SMA tidak ikut ekskul ya. Dan selanjutnya pelajaran yang bisa saya dapat selama ikut ekskul-ekskul tersebut di SMA, yaitu tidak mengikuti mainstream. Bisa jadi ekskul ini tidak populer, gak gaul lah bisa dibilang, tapi manfaat yg bisa didapet bejibun, and in the end you've got good friend indeed. Yang penting minat, bakat, langsung deh ikutin suatu kegiatan (y)


Comments

Popular posts from this blog

Aku dan perjuanganku di ITB

  Institut Teknologi Bandung merupakan kampus impian bagi banyak orang. Bagiku yang saat itu sedang SMA, masuk ITB juga merupakan hal yang aku impikan. Selain itu, ada beberapa kampus yang juga aku impikan. Mungkin karena aku masih SMA, masih remaja dan kadang labil dalam memilih tempat kuliah. Hari ini ingin kuliah farmasi, besok ingin sastra jepang, besoknya lagi ingin kuliah teknik. Pada akhirnya aku mengikuti beberapa ujian masuk kuliah di beberapa universitas untuk meningkatkan peluang masuk. Salah satu fakultas yang kuincar di ITB adalah SAPPK yang merupakan singkatna dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan. Awalnya aku ingin masuk fakultas ini karena kedua orangtuaku berprofesi sebagai arsitek dan perencana kota. Aku melihat kedua orangtuaku sebagai role model untuk pekerjaanku kelak. Namun, saat itu aku lebih tertarik menjadi arsitek karena senang melihat rumah yang bagus dari majalah-majalah milik ibuku. Dengan berbekal kerja keras mengikuti bi...

Keluarga yang lengkap

Pada lebaran kemarin, suasana terasa begitu menyenangkan. Namun di balik itu, lebaran ini adalah lebaran pertama setelah aku resmi bercerai. Rasanya tentu berbeda dengan lebaran tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya aku masih menjalani sidang perceraian dan merasa kalut. Sekarang, rasanya lebih lega meski ada suatu hal yang hilang. Memiliki keluarga yang lengkap adalah impianku. Aku ingat saat sedang ikut training potensi diri aku harus menggambarkan impianku, dan yang kugambarkan adalah pernikahan, S2 di Belanda dan menjadi dosen. Di usia setelah lulus kuliah aku telah memimpikan hal-hal yang besar untuk hidupku. Ketiga hal tersebut aku perjuangkan meski susah payah dan harus menempuh jalan berliku. Akhirnya aku bisa S2 di Belanda, meski harus apply beasiswa berkali-kali. Sayangnya pernikahan berakhir pada tahun kelima. Aku masih bermimpi ingin menjadi dosen, dan masih meniti jalan menuju hal tersebut. Kembali lagi tentang keluarga, aku pikir aku adalah family woman, yang mengutamakan ke...

Masa remajaku yang penuh lika-liku

Remaja, kata orang merupakan masanya pencarian jati diri. Aku sendiri juga merasakannya. Setelah mengenyam Pendidikan SD dan SMP di sekolah Islam, akhirnya aku merasakan sekolah di SMA Negeri. Ini merupakan syarat dari orang tuaku, harus bersekolah islam dahulu baru boleh masuk sekolah negeri agar lebih memahami agama dan mungkin agar tidak salah pergaulan. Maklum, aku tinggal di kota Bandung, kota besar dengan berbagai macam orangnya. Maka perjalananku masuk SMA dimulai. Aku masuk SMA dengan niat belajar dan beraktivitas. Aktivitasku di sekolah Islam sebelumnya lebih terbatas. Hanya ada beberapa ekstrakulikuler pilihan dan satu ekstrakulikuler wajib yaitu paskibra. Karena itu, aku merasa penasaran dengan bagaimana sekolah di sekolah negeri. Saat pertama kali masuk SMA, aku hanya memiliki beberapa orang teman dari SMP yang sama. Jujur aku merasa kaget saat melihat teman-teman baru yang lebih beragam di sekolah. Dahulu temanku semuanya berkerudung, dan yang laki-laki juga cukup baik...