Seperti sudah dijanjikan sebelumnya, aku akan cerita tentang perjalanan di Singapore 14-17 Agustus lalu. Ini kali kedua aku dan mamahku ke Singapore, yang pertama tahun kemarin dengan personil yang berbeda. Kenapa ke sini lagi? karena bapakku dan kakakku belum ke sini, selain juga waktu pertama kali ke sini yang paling sering cuma ke Orchard Road, dan fokusnya belanja dan nyari barang, jadi sekarang lebih nyari experiencenya.
Day 1
Arrival - Hotel - Singapore City Gallery - Clarke Quay
Pertama sampai bandara, yang pertama dilakukan adalah nyari simcard lokal Singapore, karena berdasarkan pengalaman dulu butuh banget simcard lokal untuk saling hubungin satu sama lain, supaya gak harus saling tunggu-tungguan. Tapi karena di bandara mahal bgt, sekitar 50 dollar sg (satu dollar = sekitar 8000 kala itu) akhirnya gak jadi beli, dan dari info yang kami dapet di Asiatravel, di mustafa atau tempat lain banyak yang jual lebih murah. Dari bandara ke hotel kita naik mobil dari asiatravel, karena sepaket dengan hotelnya. Sampai hotel, langsung menuju singapore city gallery, karena bapak sama anak sama-sama planner dan wajib ngunjungin tempat ini untuk ngeliat bagaimana perencanaan kota di Singapore. Singapore negara yang kecil, dibandingkan dengan Indonesia mungkin lebih kecil dari Provinsi DKI Jakarta. Tata kotanya sangat baik, baik dari hunian vertikal (karena lahan terbatas), fasilitas pejalan kaki maupun public transport.
Jadi pergilah kita ke Singapore City Gallery, alamatnya: 45 Maxwell Road, URA Center, levels 1-3, tentunya naik MRT. Stasiun MRT terdekat dari hotel kita adalah Fareer Park, jadi tinggal cari yang paling dekat, kami turun di Chinatown dan jalan ke sana, tanya-tanya orang juga hehe.
Day 1
Arrival - Hotel - Singapore City Gallery - Clarke Quay
Pertama sampai bandara, yang pertama dilakukan adalah nyari simcard lokal Singapore, karena berdasarkan pengalaman dulu butuh banget simcard lokal untuk saling hubungin satu sama lain, supaya gak harus saling tunggu-tungguan. Tapi karena di bandara mahal bgt, sekitar 50 dollar sg (satu dollar = sekitar 8000 kala itu) akhirnya gak jadi beli, dan dari info yang kami dapet di Asiatravel, di mustafa atau tempat lain banyak yang jual lebih murah. Dari bandara ke hotel kita naik mobil dari asiatravel, karena sepaket dengan hotelnya. Sampai hotel, langsung menuju singapore city gallery, karena bapak sama anak sama-sama planner dan wajib ngunjungin tempat ini untuk ngeliat bagaimana perencanaan kota di Singapore. Singapore negara yang kecil, dibandingkan dengan Indonesia mungkin lebih kecil dari Provinsi DKI Jakarta. Tata kotanya sangat baik, baik dari hunian vertikal (karena lahan terbatas), fasilitas pejalan kaki maupun public transport.
Jadi pergilah kita ke Singapore City Gallery, alamatnya: 45 Maxwell Road, URA Center, levels 1-3, tentunya naik MRT. Stasiun MRT terdekat dari hotel kita adalah Fareer Park, jadi tinggal cari yang paling dekat, kami turun di Chinatown dan jalan ke sana, tanya-tanya orang juga hehe.
Ini depannya Singapore City Gallery
Di dalamnya ternyata besar sekali, waktu ke Malaysia juga ke City Gallerynya, dan ini ternyata jauh lebih besar, karena di dalamnya bukan hanya maket negaranya, itu di lantai 1, di dua lantai ke atasnya masih banyak penjelasan-penjelasan interaktif tentang penataan ruang di Singapore.
ini maketnya, Singapore Flyernya dibikin kecil gt :)
Jadi dari hasil baca di sana Singapore konsepnya adalah bukan hanya garden city, tapi city in a garden. Maksudnya adalah kota yang hijau dimana banyak public space, dan banyak taman yang menjadi jantung kota dimana masyarakat berkumpul. Menarik sekali ketika Singapore dengan lahan yang terbatas bisa buat garden by the bay yang luasnya sekitar 100 hektar, di tempat yang strategis. Mudah-mudahan Indonesia bisa menyusul, masyarakatnya juga harus mendukung mulai dari gak mengotori taman yang ada, apalagi banyak banget PKL di tempat-tempat yang harusnya jadi tempat publik, huhu. Lalu di Singapore hampir semuanya apartemen, katanya sih yang punya rumah di sana orang kaya sekali, yang punya mobil juga. Harga tanah mahal karena keterbatasan lahan, harga mobil karena kebijakannya mungkin ya? Supaya orang banyak yang naik transportasi publik.
Lagi lihat masterplan Singapore, bingung kenapa bisa sama persis masterplan dengan kenyataannya, Indonesia semoga bisa :)
Ini lantainya dibuat satu Singapore
Banyak sekali yang menarik di Singapore City Gallery, tapi karena udah menjelang makan siang, kami pergi dan makan. Karena lumayan bingung cari makan yang halal, akhirnya kami di foodcourt di Maxwell Road, di situ makanannya lengkap aku makan india, mamahku makan laksa. ahaha. Kalau misalnya gak bisa cari yang tulisan halal, cari yang tulisannya No Pork No Lard.
Dari City Gallery menuju Clarke Quay kami lewat Chinatown lagi, sambil ternyata sudah dzuhur jadi Sholat Masjid Jame masih di kawasan Chinatown, termasuk masjid historis di Singapore. Dan ternyata dalamnya bagus banget, enak buat istirahat juga sebelum jalan lagi. Dan di Chinatown juga beli dua kartu simcard harganya 32 dollar sg untuk yang dengan paket internet, 15 dollar untuk yang hanya bisa telfon.
Selanjutnya kami ke Clarke Quay untuk naik perahu ~ Tapi ternyata di Clarke Quay masih panas sekali untuk naik perahu jadi kami ke merlion park. Menuju Merlion Park naik MRT dari Clarke Quay ke Raffles Place. Dari Raffles Place hanya tinggal jalan melalui UOB Plaza
ini gayanya agak-agak aneh, supaya gak mainstream ceritanya
ini pemandangan dari Merlion Park
Setelah sekitar jam 5, naiklah perahu untuk mengelilingi sungai, saya agak lupa harganya tapi kalau tidak salah sekitar 20 dollar singapore satu orang. Perjalanan di perahu sekitar 1 jam dan ada yang menjelaskan sejarah-sejarah dari bangunan yang ada di sekeliling sungai itu. Oh ya, naik perahu bisa dari Merlion Park atau Clarke Quay.
naik perahu ~
Tapi yang paling berkesan adalah penataan sempadan sungainya, jadi gak ada bangunan yang 'mepet sungai' dan meskipun sungainya gak bening banget, bisa jadi tempat wisata. Di pinggir sungai dimanfaatkan buat kafe-kafe dan banyak turis-turis datang ke situ. Nice place : >
Hari ke-2, bersambung








Comments