Skip to main content

Jalan-jalan ke korea: Membuat Visa Korea Selatan (1)

Jadi aku memutuskan untuk menulis tentang perjalanan ke korea ini, honestly I'm so excited! pergi ke korea 10 hari dengan rute perjalanan Busan - Jeonju - Seoul. Aku pergi dengan mamahku, bu adjar (teman mamah) dan di Korea ada adikku yang lagi exchange selama satu tahun dan kuliah di seoul.
Pemesanan tiket selesai (airasia.com), karena kami memutuskan untuk kemana-mana sendiri dan tidak memakai travel, begitu ada tiket promo ke Busan, akhirnya kami beli. Tiket pesawat ke Busan hanya 1,2 juta rupiah, ditambah bagasi dll jadi sekitar 1,5 juta rupiah. Untuk pulangnya, kami belum pesan dulu karena belum menentukan pulangnya kapan awalnya, dan belum dapat tiket promo yang murah dari seoul, dan akhirnya pas udah deket sekarang harus beli, dan dapat tiket seharga 2,5 juta rupiah belum dengan bagasi, dari Seoul. Untuk hotel kita pesen dari booking.com, di Busan di Hansung Motel Busan dan untuk di Seoul di Hongdae Uncle Seoul. Kita sengaja cari yang murmer karena ingin banyak jalan-jalan dibanding di Hotel hehe, dan juga menghemat uang lebih baik buat biaya masuk tempat-tempat wisata.
Jadi selanjutnya yang harus dilakukan adalah membuat visa. Sebenernya buat visa bisa pakai jasa, kalau di Bandung ada Bayu Buana dan Vaya tour, tapi karena mamah ingin nyoba bikin visa sendiri di Kedubes, selain pernah buat juga visa student untuk adikku, akhirnya kita mau bolak-balik jakarta-bandung untuk bikin visa, sekalian jalan-jalan hehe. Langkah pertama adalah melengkapi persyaratannya.

Persyaratannya (untuk visa single entry):
1. Formulir aplikasi visa, yang ini bisa di download langsung di website Dubes Korea
2. Passport asli dan fotocopy (fotocopy juga yang ada cap2 negaranya)
3. Foto 3,5 x 4,5 ditempel di aplikasi, jadi di website Kedubes ditulisnya 4x6 ternyata di formulir 3,5x4,5 akhirnya edit sendiri hehe. Tapi bawa juga pasfoto 4x6nya. Latarnya putih
4. Fotocopy KK, KTP, Akta lahir, kalau yang sudah nikah juga bawa akte nikah atau surat persetujuan suami.
6. Surat rekomendasi dari bank, sebenernya gak ada maksimalnya berapa, tapi karena di blog orang-orang yang kita cari ada yang tulis 20 juta rupiah, akhirnya mamahku ngurus ke bank untuk referensi bank dari rekening mamahku, dan ditulis diwakilkan untuk aku juga.
7. Untuk yang kerja ada syarat-syarat lain, tp kurang tahu karena belum kerja tetap hehe, jadi aku lampirkan surat keterangan dari orang tua.
7. Fotocopy rekening tabungan kita 3bulan terakhir
8. Itinerary selama di Korea
9. Print out tiket PP, tempat tinggal selama disana
10. Surat sponsor dari korea dan Indonesia (tapi gak punya, kayaknya kalau yang buat kerja)

itinerary selama di Korea, ini hasil browsing2, dan dibantu oleh adikku juga hehe :D

untuk bank referencenya, di Bank Mandiri bisa jadi dalam sehari dan dikenakan biaya administrasi aja
Setelah yakin sudah lengkap dan bismillah, akhirnya kita pergi ke Kedubes Korea tanggal 9 Oktober kemarin, kita ke Jakarta dengan modal dokumen-dokumen dan modal nekat. Alamat kedubes Korea di websitenya adalah di The Plaza, deket Grand Indonesia. Dulu juga nganterin lia (adikku) bikin visa di sana. Pas sudah sampai sana, ternyata sudah pindah lagi ke gedung lama di Jl.Gatot Subroto Kav.57! Ternyata kedubes korea dulu memang di gatot subroto, tapi karena direnov pindah ke The Plaza. Sampai sana, memang nasib belum beruntung, Kedubesnya tutup karena libur nasional di Korea. Ternyata ketika kami tanya ke Lia, di sana ada Hangul Proclamation Day, hari ditemukannya Hangul. Jadilah di sini yang di Indonesia gak bisa bikin visa korea juga. Saran untuk yang mau buat juga, liat tanggal merah di Korea, selain dari Indonesia karena Kedubes di sini juga tutup hehe.

Besoknya kami ke sana lagi jam 9 pagi, Kedubes Korea di Gatot Subroto, dan ternyata sudah buka, dan lumayan rame. Untuk pembuatan visa, mereka buka jam 09.00-12.00, dan pengambilan visa dari jam 13.30-16.30
Ternyaat pengurusannya cepat sekali, dan hanya 15 menit. Setelahnya kami dapat form untuk pengambilan paspor, dan jadi dalam waktu 2 minggu. Biasanya visa korea jadi dalam 4 hari kerja, tapi sekarang sedang ada APEC jadi pengurusannya terhambat. Untung kami berangkat tanggal 2 November, yang masih 3 minggu lagi. Oh ya, biaya visanya 300.000. Dan untuk pengurusannya gak harus sama orangnya langsung, jadi 1 orang bisa mengurus visa untuk 10 orang, asal dokumennya sudah lengkap.

Tempat pembuatan visa di Kedubes Korea
Alamat Kedutaan Besar Korea Selatan:
Jl.Gatot Subroto Kav.57

Waktu mengurus visa:
Pembuatan: 09.00-12.00
Pengambilan: 13.30-16.30



Comments

Unknown said…
mau tanya nich.,, untuk amannya saldo di rekening brp ya ?? rencana mau berangkat honeymoon sama suami sist.. :D
Mama Ziyad said…
gak ada maksimalnya sebenernya sist, kira2 yang mencukupi perjalanan ke korea sepertinya jadi sekitar 10-20 juta rupiah amannya :D kalau di jasa visa ada yg meminimalkan 50 juta tapi kalau sendiri di sana juga g dipermasalahkan saldonya :)
Mama Ziyad said…
@dini doank: kata ibu saya amannya minimal 20 juta, bisa juga pakai rekening orang lain terus diwakilkan
Unknown said…
mau tanya..kalo terbang pake jasa air asia ke korea dari soetta ga usah transit di kualalumpur? apa penerbangan dr seotta langsung ke incheon?thanks
Mama Ziyad said…
@shen qiang: transit di kuala lumpur.. sekitar 2-3 jam tergantung dari tiket yang dibeli. Kalau dari soetta yang langsung ke incheon biasanya garuda atau korea airlines, hehe
Anonymous said…
mau tanya, maksudnya bisa pakai rekening orang lain terus diwakilkan maksudnya gmn ya?
Mama Ziyad said…
jadi kemarin saya diwakilkan dengan rekening ibu saya, karena selama di korea yg membiayai ibu saya, jadi sepertinya kalau mewakilkan harus ada hubungan dengan yang akan pergi ke sana :) CMIIW
Anonymous said…
mba saya mau tahu pada waktu proses d kedutaan apakah ada pihak kedutaan yg telp ke rmh ga? untuk konfirmasi
Mama Ziyad said…
@sherly syer: waktu itu gak ada mba.. tapi pas buat visa udah dikasih tau kapan jadinya, jadi ngambil sesuai tanggal yang diberi tahu
Art works said…
Keliatan asik banget ya mengisi holiday di koreauldsA
amanda fauziah said…
halo maaf mau nanya
untuk rekening yang diwakilkan itu seperti apa ya keterangan nya?
apa surat keterangan / referensi dari bank, atau yang lainnya?
Anonymous said…
agi kK saya mau nanya2 seputar pembuatan visa ke korea. Umur saya 18 tahun saya baru lulus SMA tahun ini dan saya belum lanjut kuliah (niatnya next year istirahat dulu mau traveling hehe) jadi saya agak bingung kalau posisinya bukan pelajar dan belum bekerja gimana? karena saya gak bisa cantumkan surat kerja dan sebagainya dan tadinya saya mau cantumkan Ijazah SMA tapi karena saya keluar dari sekolah normal dan home schooling karena alasan kesehatan saya lulus dengan mengikuti ujian paket C dan sampai sekarang ijazahnya belum keluar. kalau tidak mencantumkan surat keterangan belajar dari SMA atau Universitar atau tidak mencantumkan surat kerja saya takut permohonan Visanya ditolak karena mereka curiga saya mau mencari pekerjaan disana (teman tante saya pernah apply visa ke korea saat kondisinya seperti saya dan ditolak akhirnya baru diterima saat dia sudah masuk kuliah dengan surat keterangan belajar dari unifnya). apa saya minta saja surat keterangan belajar dari sekolah lama saya yang bertuliskan saya masih kelas 3 SMA dan cantumkan di dokumen? atau gak perllu lampirkan apa2 mengenai sekolah dan sebagainya? kakak gimana? umur kakak berapa dan dokumen apa saja yang kakak lampirkan? saya benar-benar bingung. kalo kakak ada solusi yang bisa menjawab dan membantu saya mohon bantuannya ya kak hehe terimakasih sebelumnya
Bandar Bola said…
This comment has been removed by a blog administrator.
Anis said…
Halooo Kak. Salam kenal yaa sebelumnya. Wah aku baca2 komennya tadi, itu maksudnya pinjem rekening orang yang bisa diwakilkan apa ya kak? Terimakasih sebelumnyaa :D

Popular posts from this blog

Aku dan perjuanganku di ITB

  Institut Teknologi Bandung merupakan kampus impian bagi banyak orang. Bagiku yang saat itu sedang SMA, masuk ITB juga merupakan hal yang aku impikan. Selain itu, ada beberapa kampus yang juga aku impikan. Mungkin karena aku masih SMA, masih remaja dan kadang labil dalam memilih tempat kuliah. Hari ini ingin kuliah farmasi, besok ingin sastra jepang, besoknya lagi ingin kuliah teknik. Pada akhirnya aku mengikuti beberapa ujian masuk kuliah di beberapa universitas untuk meningkatkan peluang masuk. Salah satu fakultas yang kuincar di ITB adalah SAPPK yang merupakan singkatna dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan. Awalnya aku ingin masuk fakultas ini karena kedua orangtuaku berprofesi sebagai arsitek dan perencana kota. Aku melihat kedua orangtuaku sebagai role model untuk pekerjaanku kelak. Namun, saat itu aku lebih tertarik menjadi arsitek karena senang melihat rumah yang bagus dari majalah-majalah milik ibuku. Dengan berbekal kerja keras mengikuti bi...

Keluarga yang lengkap

Pada lebaran kemarin, suasana terasa begitu menyenangkan. Namun di balik itu, lebaran ini adalah lebaran pertama setelah aku resmi bercerai. Rasanya tentu berbeda dengan lebaran tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya aku masih menjalani sidang perceraian dan merasa kalut. Sekarang, rasanya lebih lega meski ada suatu hal yang hilang. Memiliki keluarga yang lengkap adalah impianku. Aku ingat saat sedang ikut training potensi diri aku harus menggambarkan impianku, dan yang kugambarkan adalah pernikahan, S2 di Belanda dan menjadi dosen. Di usia setelah lulus kuliah aku telah memimpikan hal-hal yang besar untuk hidupku. Ketiga hal tersebut aku perjuangkan meski susah payah dan harus menempuh jalan berliku. Akhirnya aku bisa S2 di Belanda, meski harus apply beasiswa berkali-kali. Sayangnya pernikahan berakhir pada tahun kelima. Aku masih bermimpi ingin menjadi dosen, dan masih meniti jalan menuju hal tersebut. Kembali lagi tentang keluarga, aku pikir aku adalah family woman, yang mengutamakan ke...

Masa remajaku yang penuh lika-liku

Remaja, kata orang merupakan masanya pencarian jati diri. Aku sendiri juga merasakannya. Setelah mengenyam Pendidikan SD dan SMP di sekolah Islam, akhirnya aku merasakan sekolah di SMA Negeri. Ini merupakan syarat dari orang tuaku, harus bersekolah islam dahulu baru boleh masuk sekolah negeri agar lebih memahami agama dan mungkin agar tidak salah pergaulan. Maklum, aku tinggal di kota Bandung, kota besar dengan berbagai macam orangnya. Maka perjalananku masuk SMA dimulai. Aku masuk SMA dengan niat belajar dan beraktivitas. Aktivitasku di sekolah Islam sebelumnya lebih terbatas. Hanya ada beberapa ekstrakulikuler pilihan dan satu ekstrakulikuler wajib yaitu paskibra. Karena itu, aku merasa penasaran dengan bagaimana sekolah di sekolah negeri. Saat pertama kali masuk SMA, aku hanya memiliki beberapa orang teman dari SMP yang sama. Jujur aku merasa kaget saat melihat teman-teman baru yang lebih beragam di sekolah. Dahulu temanku semuanya berkerudung, dan yang laki-laki juga cukup baik...