Skip to main content

Life after graduated

Lulus, setelah lulus lebih banyak bingung lagi, S2, kerja dimana. Sekarang sedang kerja di salah satu konsultan di Bandung, dan juga bantu proyek bapak yang juga seorang planner. Hal ini juga karena aku masih sangat cinta Bandung, dan belum bisa move on ke kota lain, haha.
Temen-temenku yang lain juga banyak yang baru lulus, ada yang langsung S2, ada yang sedang melamar kerja, ada juga yang langsung dapat kerjaan. Aku sendiri setelah desember ini akan nganggur (atau dapat proyekan baru lagi?). Jadi inget obrolan di grup line dengan temen2, yang hampir semuanya sudah lulus, ada yang HI, ada yang dokter, ada yang IT, ada yang statistika, keren2 bgt jurusannya. Kita semua galau2nya bareng, dan memotivasi satu sama lain. Intinya wajar kalau habis lulus harus nyari kerja kemana-mana, dan dapet gaji sekedarnya dulu, kalau banyak yang dimauin susah juga dapat kerja, gamau kan nganggur terus, hehe. Kalau kerja keras nanti juga akan mencapai yang diinginkan, sesuai passion dan yang penting halal.
Tapi selain kerja juga jangan lupa nikah, haha. Nikah itu sunnah Rasulullah, dan yang mengikuti sunnahnya sama dengan mencintai Rasulullah. S2 juga baik, apalagi ada hadist yang mengatakan kalau siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu maka Allah akan memudahkan jalan ke surga. Apalagi kalau ilmu yang udah didapat digunakan untuk ibadah dan untuk orang lain. hehe
Jadi wajar ya kalau habis lulus galau, emang rasanya lebih enak jadi mahasiswa ya?

Comments

Popular posts from this blog

Aku dan perjuanganku di ITB

  Institut Teknologi Bandung merupakan kampus impian bagi banyak orang. Bagiku yang saat itu sedang SMA, masuk ITB juga merupakan hal yang aku impikan. Selain itu, ada beberapa kampus yang juga aku impikan. Mungkin karena aku masih SMA, masih remaja dan kadang labil dalam memilih tempat kuliah. Hari ini ingin kuliah farmasi, besok ingin sastra jepang, besoknya lagi ingin kuliah teknik. Pada akhirnya aku mengikuti beberapa ujian masuk kuliah di beberapa universitas untuk meningkatkan peluang masuk. Salah satu fakultas yang kuincar di ITB adalah SAPPK yang merupakan singkatna dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan. Awalnya aku ingin masuk fakultas ini karena kedua orangtuaku berprofesi sebagai arsitek dan perencana kota. Aku melihat kedua orangtuaku sebagai role model untuk pekerjaanku kelak. Namun, saat itu aku lebih tertarik menjadi arsitek karena senang melihat rumah yang bagus dari majalah-majalah milik ibuku. Dengan berbekal kerja keras mengikuti bi...

Keluarga yang lengkap

Pada lebaran kemarin, suasana terasa begitu menyenangkan. Namun di balik itu, lebaran ini adalah lebaran pertama setelah aku resmi bercerai. Rasanya tentu berbeda dengan lebaran tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya aku masih menjalani sidang perceraian dan merasa kalut. Sekarang, rasanya lebih lega meski ada suatu hal yang hilang. Memiliki keluarga yang lengkap adalah impianku. Aku ingat saat sedang ikut training potensi diri aku harus menggambarkan impianku, dan yang kugambarkan adalah pernikahan, S2 di Belanda dan menjadi dosen. Di usia setelah lulus kuliah aku telah memimpikan hal-hal yang besar untuk hidupku. Ketiga hal tersebut aku perjuangkan meski susah payah dan harus menempuh jalan berliku. Akhirnya aku bisa S2 di Belanda, meski harus apply beasiswa berkali-kali. Sayangnya pernikahan berakhir pada tahun kelima. Aku masih bermimpi ingin menjadi dosen, dan masih meniti jalan menuju hal tersebut. Kembali lagi tentang keluarga, aku pikir aku adalah family woman, yang mengutamakan ke...

Masa remajaku yang penuh lika-liku

Remaja, kata orang merupakan masanya pencarian jati diri. Aku sendiri juga merasakannya. Setelah mengenyam Pendidikan SD dan SMP di sekolah Islam, akhirnya aku merasakan sekolah di SMA Negeri. Ini merupakan syarat dari orang tuaku, harus bersekolah islam dahulu baru boleh masuk sekolah negeri agar lebih memahami agama dan mungkin agar tidak salah pergaulan. Maklum, aku tinggal di kota Bandung, kota besar dengan berbagai macam orangnya. Maka perjalananku masuk SMA dimulai. Aku masuk SMA dengan niat belajar dan beraktivitas. Aktivitasku di sekolah Islam sebelumnya lebih terbatas. Hanya ada beberapa ekstrakulikuler pilihan dan satu ekstrakulikuler wajib yaitu paskibra. Karena itu, aku merasa penasaran dengan bagaimana sekolah di sekolah negeri. Saat pertama kali masuk SMA, aku hanya memiliki beberapa orang teman dari SMP yang sama. Jujur aku merasa kaget saat melihat teman-teman baru yang lebih beragam di sekolah. Dahulu temanku semuanya berkerudung, dan yang laki-laki juga cukup baik...