Skip to main content

Edisi kangen kampus

Di usia 30an ini, saya tiba-tiba kangen kampus. Hidup hingga sekarang, yang saya rasa paling terkenang adalah masa sarjana alias S1 saya. SMP cukup menyenangkan, SMA biasa-biasa saja. Beda tiap orang. Nah yang saya rasa yang paling menyenangkan adalah kuliah di ITB. Setelah kuliah 4 tahun di sana, banyak sekali cerita yang terkenang hingga sekarang. Saya dapat sahabat juga di sana yang sampai sekarang masih selalu curhat. 

Perkuliahan saya mulai nyaman di tahun kedua sejak masuk jurusan. Tahun pertama saya rasa cukup berat karena ada tahap TPB (Tahap Persiapan Bersama). Dapat nilai C juga susah payah terutama di mata kuliah eksakta. Tapi tahun selanjutnya nilai saya semakin bagus dan saya semakin mencintai kampus saya karena sudah biasa dan suka jurusannya. 

Saat saya kuliah, saya sering kaget karena persaingannya benar-benar terasa. Ujiannya banyak dan tugasnya juga cukup banyak. Tapi masih dapat saya tanggung di usia 18 hingga 20an saat itu. Banyak teman yang bisa saya tanya dan belajar bareng. Saya menikmati belajar karena teman-temannya baik, dosennya mengajar dengan baik. Banyak ilmu yang bermanfaat hingga sekarang. 

Kalau di masa sekarang ditanya ingin mengulang masa kuliah tidak? Jawabannya kangen banget, kangen usia muda yang produktif melakukan hal macam-macam, tidak capek-capek. Belajarnya tentu tidak ingin mengulang karena capek belajar lagi. Saya rindu suasananya dan kegiatan-kegiatan di kampus yang seru-seru. Tempat kenangan seperti kantin-kantinnya, GKU barat, selasar planologi tempat ospek jurusan, dll. Mudah-mudahan saya bisa main lagi ke sana sehingga kangennya bisa terpenuhi. 



foto saya bersama teman-teman (sumber: fb)


Comments

Popular posts from this blog

Aku dan perjuanganku di ITB

  Institut Teknologi Bandung merupakan kampus impian bagi banyak orang. Bagiku yang saat itu sedang SMA, masuk ITB juga merupakan hal yang aku impikan. Selain itu, ada beberapa kampus yang juga aku impikan. Mungkin karena aku masih SMA, masih remaja dan kadang labil dalam memilih tempat kuliah. Hari ini ingin kuliah farmasi, besok ingin sastra jepang, besoknya lagi ingin kuliah teknik. Pada akhirnya aku mengikuti beberapa ujian masuk kuliah di beberapa universitas untuk meningkatkan peluang masuk. Salah satu fakultas yang kuincar di ITB adalah SAPPK yang merupakan singkatna dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan. Awalnya aku ingin masuk fakultas ini karena kedua orangtuaku berprofesi sebagai arsitek dan perencana kota. Aku melihat kedua orangtuaku sebagai role model untuk pekerjaanku kelak. Namun, saat itu aku lebih tertarik menjadi arsitek karena senang melihat rumah yang bagus dari majalah-majalah milik ibuku. Dengan berbekal kerja keras mengikuti bi...

Keluarga yang lengkap

Pada lebaran kemarin, suasana terasa begitu menyenangkan. Namun di balik itu, lebaran ini adalah lebaran pertama setelah aku resmi bercerai. Rasanya tentu berbeda dengan lebaran tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya aku masih menjalani sidang perceraian dan merasa kalut. Sekarang, rasanya lebih lega meski ada suatu hal yang hilang. Memiliki keluarga yang lengkap adalah impianku. Aku ingat saat sedang ikut training potensi diri aku harus menggambarkan impianku, dan yang kugambarkan adalah pernikahan, S2 di Belanda dan menjadi dosen. Di usia setelah lulus kuliah aku telah memimpikan hal-hal yang besar untuk hidupku. Ketiga hal tersebut aku perjuangkan meski susah payah dan harus menempuh jalan berliku. Akhirnya aku bisa S2 di Belanda, meski harus apply beasiswa berkali-kali. Sayangnya pernikahan berakhir pada tahun kelima. Aku masih bermimpi ingin menjadi dosen, dan masih meniti jalan menuju hal tersebut. Kembali lagi tentang keluarga, aku pikir aku adalah family woman, yang mengutamakan ke...

Masa remajaku yang penuh lika-liku

Remaja, kata orang merupakan masanya pencarian jati diri. Aku sendiri juga merasakannya. Setelah mengenyam Pendidikan SD dan SMP di sekolah Islam, akhirnya aku merasakan sekolah di SMA Negeri. Ini merupakan syarat dari orang tuaku, harus bersekolah islam dahulu baru boleh masuk sekolah negeri agar lebih memahami agama dan mungkin agar tidak salah pergaulan. Maklum, aku tinggal di kota Bandung, kota besar dengan berbagai macam orangnya. Maka perjalananku masuk SMA dimulai. Aku masuk SMA dengan niat belajar dan beraktivitas. Aktivitasku di sekolah Islam sebelumnya lebih terbatas. Hanya ada beberapa ekstrakulikuler pilihan dan satu ekstrakulikuler wajib yaitu paskibra. Karena itu, aku merasa penasaran dengan bagaimana sekolah di sekolah negeri. Saat pertama kali masuk SMA, aku hanya memiliki beberapa orang teman dari SMP yang sama. Jujur aku merasa kaget saat melihat teman-teman baru yang lebih beragam di sekolah. Dahulu temanku semuanya berkerudung, dan yang laki-laki juga cukup baik...