Skip to main content

Mengenal Ziyada

Ziyad adalah anak pertamaku. Kuat dan tangguh, cerdas anaknya. Dari kandungan dia kuat sekali. Terlilit tali pusar dan gawat janin katanya. Terlahir caesar karena pertolongan darurat dokter kandungan saya yang sangat baik dan tenang. Alhamdulillah. Melahirkan cukup berat karena sebelumnya aku tidak expect apa-apa. Persiapanku juga terbilang minim. Tapi pervaginam atau caesar seharusnya tidak jadi masalah. Karena aku masih hidup. Pemulihan pasca caesar hanya sekitar 2 minggu.

Aku sayang sekali dengan Ziyad. Tiap hari aku selalu kemana-mana  dengan Ziyad. Bosan juga ada sih. Tapi itu wajar namanya ibu biasa. Biasanya aku kabur sebentar cari bacaan supaya santai dan tidak mengurus anak dengan emosi. Ziyad aku harapkan menjadi laki-laki yang baik. Aku harap Ziyad menurunkan hal-hal yang baiknya dari saya. 

Jujur di hati aku pernah denial dengan autisme. Mengapa anakku dan mengapa. Di kandungan tidak ada apa-apa. Aku jalani terus sambil menilik perasaan saya. Apa yang bisa diperbaiki. Aku juga tahu Ziyad pernah mengalami trauma. Jika tidak diterapi akan berakibat panjang pada belajar. Tapi Ziyad masih hidup, semoga masa depannya lebih baik menggantikan masa lalunya.

Aku selalu memperhatikan pendidikan. Pendidikan sangat penting bagiku dan selalu aku kejar. Tapi untuk anak aku tidak mengerti. Aku hanya menginkan anak saya agar bisa maju meski punya masa lalu. Tidak tumbuh menjadi anak yang bully orang lain meski pernah mengalami macam-macam.  

Anak selalu menjadi nomer satu untuk ibu. Apalagi anak pertama. Makanya aku sayang sekali dengan Ziyada. Karena pernah terapi dimana-mana, aku sudah sering melihat perjuangan ibu-ibu untuk membesarkan anak.

Ziyad sekarang sudah berumur 4 tahun lebih, masih anak kecil yang belajar banyak. Lucu sekali apalagi jika tertawa dan bermain. Ziyad juga pintar sekali dan paling suka puzzle dan flashcard. Mudah-mudahan kelak Ziyad bisa menjadi anak yang membanggakan keluarga dan qurrota ayyun untuk orang lain.





Comments

Popular posts from this blog

Aku dan perjuanganku di ITB

  Institut Teknologi Bandung merupakan kampus impian bagi banyak orang. Bagiku yang saat itu sedang SMA, masuk ITB juga merupakan hal yang aku impikan. Selain itu, ada beberapa kampus yang juga aku impikan. Mungkin karena aku masih SMA, masih remaja dan kadang labil dalam memilih tempat kuliah. Hari ini ingin kuliah farmasi, besok ingin sastra jepang, besoknya lagi ingin kuliah teknik. Pada akhirnya aku mengikuti beberapa ujian masuk kuliah di beberapa universitas untuk meningkatkan peluang masuk. Salah satu fakultas yang kuincar di ITB adalah SAPPK yang merupakan singkatna dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan. Awalnya aku ingin masuk fakultas ini karena kedua orangtuaku berprofesi sebagai arsitek dan perencana kota. Aku melihat kedua orangtuaku sebagai role model untuk pekerjaanku kelak. Namun, saat itu aku lebih tertarik menjadi arsitek karena senang melihat rumah yang bagus dari majalah-majalah milik ibuku. Dengan berbekal kerja keras mengikuti bi...

Keluarga yang lengkap

Pada lebaran kemarin, suasana terasa begitu menyenangkan. Namun di balik itu, lebaran ini adalah lebaran pertama setelah aku resmi bercerai. Rasanya tentu berbeda dengan lebaran tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya aku masih menjalani sidang perceraian dan merasa kalut. Sekarang, rasanya lebih lega meski ada suatu hal yang hilang. Memiliki keluarga yang lengkap adalah impianku. Aku ingat saat sedang ikut training potensi diri aku harus menggambarkan impianku, dan yang kugambarkan adalah pernikahan, S2 di Belanda dan menjadi dosen. Di usia setelah lulus kuliah aku telah memimpikan hal-hal yang besar untuk hidupku. Ketiga hal tersebut aku perjuangkan meski susah payah dan harus menempuh jalan berliku. Akhirnya aku bisa S2 di Belanda, meski harus apply beasiswa berkali-kali. Sayangnya pernikahan berakhir pada tahun kelima. Aku masih bermimpi ingin menjadi dosen, dan masih meniti jalan menuju hal tersebut. Kembali lagi tentang keluarga, aku pikir aku adalah family woman, yang mengutamakan ke...

Masa remajaku yang penuh lika-liku

Remaja, kata orang merupakan masanya pencarian jati diri. Aku sendiri juga merasakannya. Setelah mengenyam Pendidikan SD dan SMP di sekolah Islam, akhirnya aku merasakan sekolah di SMA Negeri. Ini merupakan syarat dari orang tuaku, harus bersekolah islam dahulu baru boleh masuk sekolah negeri agar lebih memahami agama dan mungkin agar tidak salah pergaulan. Maklum, aku tinggal di kota Bandung, kota besar dengan berbagai macam orangnya. Maka perjalananku masuk SMA dimulai. Aku masuk SMA dengan niat belajar dan beraktivitas. Aktivitasku di sekolah Islam sebelumnya lebih terbatas. Hanya ada beberapa ekstrakulikuler pilihan dan satu ekstrakulikuler wajib yaitu paskibra. Karena itu, aku merasa penasaran dengan bagaimana sekolah di sekolah negeri. Saat pertama kali masuk SMA, aku hanya memiliki beberapa orang teman dari SMP yang sama. Jujur aku merasa kaget saat melihat teman-teman baru yang lebih beragam di sekolah. Dahulu temanku semuanya berkerudung, dan yang laki-laki juga cukup baik...