Skip to main content

Tentang sosial media saya

Tentang sosial media memang tidak akan habis diulik oleh semua orang. Dari banyak sosial media, saya masih memiliki instagram dan facebook. Sisanya saya delete untuk menjaga kewarasan, serta agar tidak kecanduan sosial media.

Dahulu sih saya termasuk salah satu instagram freak. Apalagi ketika kuliah di Belanda. Saya ingat saya beli baju dan coat baru hanya untuk tidak memiliki foto dengan coat yang sama di setiap post instagram. Serta jalan-jalan ke banyak tempat, saya pikir salah satu tujuannya untuk dipamerkan di sosial media.

Lama kelamaan saya bosan juga. Mengapa hidup ini seperti ada di dua dunia. Dunia normal dan dunia maya. Ketika ada masalah dengan stres, saya melihat sosial media memang dengan cara yang beda. Iri, stres dan lainnya. Memang hal negatif yang saya ambil ketika saya bermasalah, maka saya memilih untuk rehat sosial media. Delete sosial media supaya anxiety saya tidak tambah parah. Melatih pola pikir agar lebih positif. Dan melatih diri agar bersosialisasi dengan teman di dunia nyata. Enaknya tidak punya sosial media memang lebih banyak waktu kosong. Apalagi saya punya anak, harus mengurus anak seharian.

Ketika pola pikir negatif saya sudah membaik, saya mulai melakukan sosial media lagi. Saya putuskan hanya aktif di instagram. Facebook hanya saya lihat kadang-kadang. Sebenarnya tidak salah punya sosial media, selama bisa mengelolanya. Apalagi jika bisa memfilter post yang baik untuk dishare. Toh sekarang banyak sekali selebgram dan tokoh yang aktif di sosial media dan rajin menshare hal-hal yang baik. Ini semua kembali ke pribadi masing-masing. Tujuan bersosial media apa, dan bagaimana membagi waktu antara berseluncur di dunia maya dan berkegiatan di dunia nyata. Selamat memilih pilihan yang terbaik untuk diri kalian, baik platform untuk mengepost status dan postingan, serta untuk aktif atau tidak di sosial media.

Comments

Popular posts from this blog

Aku dan perjuanganku di ITB

  Institut Teknologi Bandung merupakan kampus impian bagi banyak orang. Bagiku yang saat itu sedang SMA, masuk ITB juga merupakan hal yang aku impikan. Selain itu, ada beberapa kampus yang juga aku impikan. Mungkin karena aku masih SMA, masih remaja dan kadang labil dalam memilih tempat kuliah. Hari ini ingin kuliah farmasi, besok ingin sastra jepang, besoknya lagi ingin kuliah teknik. Pada akhirnya aku mengikuti beberapa ujian masuk kuliah di beberapa universitas untuk meningkatkan peluang masuk. Salah satu fakultas yang kuincar di ITB adalah SAPPK yang merupakan singkatna dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan. Awalnya aku ingin masuk fakultas ini karena kedua orangtuaku berprofesi sebagai arsitek dan perencana kota. Aku melihat kedua orangtuaku sebagai role model untuk pekerjaanku kelak. Namun, saat itu aku lebih tertarik menjadi arsitek karena senang melihat rumah yang bagus dari majalah-majalah milik ibuku. Dengan berbekal kerja keras mengikuti bi...

Keluarga yang lengkap

Pada lebaran kemarin, suasana terasa begitu menyenangkan. Namun di balik itu, lebaran ini adalah lebaran pertama setelah aku resmi bercerai. Rasanya tentu berbeda dengan lebaran tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya aku masih menjalani sidang perceraian dan merasa kalut. Sekarang, rasanya lebih lega meski ada suatu hal yang hilang. Memiliki keluarga yang lengkap adalah impianku. Aku ingat saat sedang ikut training potensi diri aku harus menggambarkan impianku, dan yang kugambarkan adalah pernikahan, S2 di Belanda dan menjadi dosen. Di usia setelah lulus kuliah aku telah memimpikan hal-hal yang besar untuk hidupku. Ketiga hal tersebut aku perjuangkan meski susah payah dan harus menempuh jalan berliku. Akhirnya aku bisa S2 di Belanda, meski harus apply beasiswa berkali-kali. Sayangnya pernikahan berakhir pada tahun kelima. Aku masih bermimpi ingin menjadi dosen, dan masih meniti jalan menuju hal tersebut. Kembali lagi tentang keluarga, aku pikir aku adalah family woman, yang mengutamakan ke...

Masa remajaku yang penuh lika-liku

Remaja, kata orang merupakan masanya pencarian jati diri. Aku sendiri juga merasakannya. Setelah mengenyam Pendidikan SD dan SMP di sekolah Islam, akhirnya aku merasakan sekolah di SMA Negeri. Ini merupakan syarat dari orang tuaku, harus bersekolah islam dahulu baru boleh masuk sekolah negeri agar lebih memahami agama dan mungkin agar tidak salah pergaulan. Maklum, aku tinggal di kota Bandung, kota besar dengan berbagai macam orangnya. Maka perjalananku masuk SMA dimulai. Aku masuk SMA dengan niat belajar dan beraktivitas. Aktivitasku di sekolah Islam sebelumnya lebih terbatas. Hanya ada beberapa ekstrakulikuler pilihan dan satu ekstrakulikuler wajib yaitu paskibra. Karena itu, aku merasa penasaran dengan bagaimana sekolah di sekolah negeri. Saat pertama kali masuk SMA, aku hanya memiliki beberapa orang teman dari SMP yang sama. Jujur aku merasa kaget saat melihat teman-teman baru yang lebih beragam di sekolah. Dahulu temanku semuanya berkerudung, dan yang laki-laki juga cukup baik...