Notes: post ini mungkin mengandung stress
Anakku didiagnosa autism spectrum disorder (ASD) pada usia 2 tahun. Sebagai ibunya, muncul ketakutan yang langsung muncul dalam diriku. Alih-alih menerima, aku malah tenggelam dalam ketakutanku tersebut. Aku berdiam diri di rumah berhari-hari. Penerimaanku tidak baik sehingga mendengarkan kata autis saja aku langsung menangis.
Akhirnya setelah sekian lama, emosiku membaik dan akhirnya anakku bisa diterapi. Sudah berapa kali assesment dilakukan dan hasilnya tetap sama. Pernah di suatu yayasan klinik tumbuh kembang anak, anakku konsultasi dengan psikolog anak dan malah diketahui aku yang tidak beres dengan diriku sehingga bonding dengan anak tidak kuat. Akhirnya aku beberapa kali ikut sesi konsultasi dengan psikolog di sana.
Memiliki anak autis memang tidak mudah, meski sekarang anakku sudah lima tahun kadang aku merasa tidak sanggup. Aku berjuang melawan persepsi di diriku tentang autis.
Berdasarkan Kemenpppa penyandang autisme laki-laki di lebih banyak dibandingkan perempuan dengan perbandingan 1:5. Maka aku yakin anakku adalah anak pilihan dari Allah. Aku dipilih sebagai ibunya karena aku adalah ibu yang dipilih oleh Allah. Aku yakin ketakutan yang selalu muncul hingga saat ini bisa kuatasi dengan kekuatan dari diriku dan support dari orang-orang terdekatku.
Comments