Skip to main content

Akhir tahun ajaran Ziyad

Sebagai seorang ibu yang memiliki anak satu, banyak kebersyukuran yang saya rasakan. Pada hari Rabu, 21 Juni kemarin Ziyad bagi rapor untuk akhir tahun. Sudah beberapa kali saya mengambil rapor untuk anak saya, kadang sendiri, kadang dengan ibu saya. Di pembagian rapor ini, haru biru yang saya rasakan. Melihat anak saya yang awal masuk TK tantrum begitu ada puzzle hilang satu bagian. Sekarang katanya sudah tidak pernah tantrum di sekolah. Hanya kadang-kadang rewel saja. Yang dulunya cuek, ada anak lain hanya melengos begitu saja, sekarang sudah mulai ada interaksi dengan temannya. Sudah mulai bermain bareng, berpegangan tangan, dan lainnya.

Saya sendiri juga bangga dengan diri saya, karena berhasil mengantarkan Ziyad hingga setahun ini sekolah. Tentunya dengan dukungan keluarga. Keluarga saya sangat mendukung pembelajaran Ziyad dalam segala halnya, terutama dalam hal terapi. Tapi dari segi emosi, saya sebagai ibu sudah sangat membaik. Saya dahulu minder dengan keadaannya, sekarang merasa bangga dan tidak segan menceritakan kondisi Ziyad.

Tahun ini seperti roller coaster bagi saya dan Ziyad, namun secara keseluruhan saya merasa tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Adanya sekolah bagi Ziyad sangat berarti, karena mendukung progress belajar dan emosi Ziyad. Saya juga bisa mengaktualisasikan diri saya dengan mengajar saat Ziyad sekolah, dan mempunyai waktu sendiri yang sangat berharga bagi seorang ibu. 

Sekarang, setelah Ziyad sekolah selama setahun, dia akan naik ke TK B. Saya merasa sangat bersyukur dengan kenaikan kelas ini. Saya juga sering khawatir ia akan tertinggal pelajarannya, karena kondisinya yang terlambat dalam beberapa hal. Alhamdulillah gurunya mendukung Ziyad untuk terus belajar, dan tidak membedakan anak yang berkebutuhan khusus dan tipikal. Ini yang membuat saya suka dengan sekolahnya sekarang. Semoga Ziyad semakin bertumbuh dan berkembang, serta membuat Mama bangga ya Nak.



Comments

Popular posts from this blog

Aku dan perjuanganku di ITB

  Institut Teknologi Bandung merupakan kampus impian bagi banyak orang. Bagiku yang saat itu sedang SMA, masuk ITB juga merupakan hal yang aku impikan. Selain itu, ada beberapa kampus yang juga aku impikan. Mungkin karena aku masih SMA, masih remaja dan kadang labil dalam memilih tempat kuliah. Hari ini ingin kuliah farmasi, besok ingin sastra jepang, besoknya lagi ingin kuliah teknik. Pada akhirnya aku mengikuti beberapa ujian masuk kuliah di beberapa universitas untuk meningkatkan peluang masuk. Salah satu fakultas yang kuincar di ITB adalah SAPPK yang merupakan singkatna dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan. Awalnya aku ingin masuk fakultas ini karena kedua orangtuaku berprofesi sebagai arsitek dan perencana kota. Aku melihat kedua orangtuaku sebagai role model untuk pekerjaanku kelak. Namun, saat itu aku lebih tertarik menjadi arsitek karena senang melihat rumah yang bagus dari majalah-majalah milik ibuku. Dengan berbekal kerja keras mengikuti bi...

Keluarga yang lengkap

Pada lebaran kemarin, suasana terasa begitu menyenangkan. Namun di balik itu, lebaran ini adalah lebaran pertama setelah aku resmi bercerai. Rasanya tentu berbeda dengan lebaran tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya aku masih menjalani sidang perceraian dan merasa kalut. Sekarang, rasanya lebih lega meski ada suatu hal yang hilang. Memiliki keluarga yang lengkap adalah impianku. Aku ingat saat sedang ikut training potensi diri aku harus menggambarkan impianku, dan yang kugambarkan adalah pernikahan, S2 di Belanda dan menjadi dosen. Di usia setelah lulus kuliah aku telah memimpikan hal-hal yang besar untuk hidupku. Ketiga hal tersebut aku perjuangkan meski susah payah dan harus menempuh jalan berliku. Akhirnya aku bisa S2 di Belanda, meski harus apply beasiswa berkali-kali. Sayangnya pernikahan berakhir pada tahun kelima. Aku masih bermimpi ingin menjadi dosen, dan masih meniti jalan menuju hal tersebut. Kembali lagi tentang keluarga, aku pikir aku adalah family woman, yang mengutamakan ke...

Masa remajaku yang penuh lika-liku

Remaja, kata orang merupakan masanya pencarian jati diri. Aku sendiri juga merasakannya. Setelah mengenyam Pendidikan SD dan SMP di sekolah Islam, akhirnya aku merasakan sekolah di SMA Negeri. Ini merupakan syarat dari orang tuaku, harus bersekolah islam dahulu baru boleh masuk sekolah negeri agar lebih memahami agama dan mungkin agar tidak salah pergaulan. Maklum, aku tinggal di kota Bandung, kota besar dengan berbagai macam orangnya. Maka perjalananku masuk SMA dimulai. Aku masuk SMA dengan niat belajar dan beraktivitas. Aktivitasku di sekolah Islam sebelumnya lebih terbatas. Hanya ada beberapa ekstrakulikuler pilihan dan satu ekstrakulikuler wajib yaitu paskibra. Karena itu, aku merasa penasaran dengan bagaimana sekolah di sekolah negeri. Saat pertama kali masuk SMA, aku hanya memiliki beberapa orang teman dari SMP yang sama. Jujur aku merasa kaget saat melihat teman-teman baru yang lebih beragam di sekolah. Dahulu temanku semuanya berkerudung, dan yang laki-laki juga cukup baik...