Aku memutuskan untuk memulai karir kembali sejak tahun lalu menjadi single mom. Tadinya aku merasa cukup jadi ibu rumah tangga saja, dan mengasuh anak. Itu saja sudah repot sekali. Tapi karena aku harus mencari nafkah, aku memutuskan untuk mencari pekerjaan untuk membiayai diri dan anakku.
Aku dulunya ibu rumah tangga biasa yang pikirannya mengurus anak dan bersih-bersih rumah. Sekarang kondisi menuntutku untuk menjadi kepala keluarga. Untungnya sebelum aku menikah aku pernah bekerja dan kuliah master, sehingga menjadi modal awal dan CVku tidak kosong-kosong amat. Aku juga tidak terlalu kaget dengan bagaimana harus bekerja, meski dahulu kerjaku kebanyakan freelance proyek.
Tahun ini, aku sudah beberapa kali melamar kerja. Belum sampai tidak terhitung. Yang sudah lolos ke tahap interview hanya dua, dan kulakukan sebisa mungkin dengan pengalamanku yang masih minim. Tapi belum rezeki ternyata. Email penolakan memang tidak diterima, tapi tidak dikabari jika tidak lolos tahap lebih lanjut. Rasanya seperti di drama korea yang menceritakan peliknya mencari kerja dan tidak dapat-dapat juga meski sudah sering interview.
Kupikir makin ke sini persaingan dunia kerja semakin ketat, apalagi dengan teknologi yang ada. Ada linkedin dimana semua bisa menuliskan CVnya. Bahkan perusahaan bisa langsung melihat CV kita hanya dengan melihat profil. Kerjapun bisa remote sehingga semua orang di daerah manapun bisa apply dan bekerja secara online. Hal ini memang memudahkan apply kerja, tapi kenyataannya untuk mendapatkan pekerjaan tidaklah mudah.
perempuan bekerja
Dari semua pekerjaan aku ingin sekali menjadi dosen. Beberapa teman di angkatanku bahkan sudah menjadi dosen, atau ada yang sudah S3. Dibanding tahun lalu, aku merasa lebih maju. Dulu aku takut untuk melangkah ke depan dan merasa tidak bisa apa-apa. Sekarang setidaknya aku sudah melangkah beberapa langkah, dengan mengajar seminggu sekali dan mencoba apply pekerjaan yang kuinginkan. Semoga kehidupan karirku beranjak lebih baik ke depannya.

Comments