Skip to main content

Menonton Drama Korea

Menjadi ibu anak satu memang cukup sibuk setiap harinya. Kadang rutinitas mengasuh anak juga terasa menjenuhkan. Untuk mengatasi kejenuhan tersebut, aku suka mencari hobi atau rutinitas yang menyenangkan.

Karena waktuku dibagi untuk bekerja dan mengasuh anak, kadang hariku lumayan padat. Tapi kadang juga ada waktu senggang, misalnya saat anak sekolah atau pekerjaan sedang sedikit. Saat senggang itulah aku sering mengisi dengan hobiku, yaitu menonton drama korea.

Banyak alasan mengapa aku suka drama korea. Drama korea memiliki alur cerita yang menarik, sehingga waktu sejam untuk satu episode tidak terasa. Selain itu tentu saja aktor dan aktris di drama penampilannya menarik, sehingga tidak pernah bosan untuk dilihat. Meski tidak sampai ngefans berat, tentu saja aku mempunyai beberapa aktor dan aktris yang paling aku sukai.

Selain itu, genre dari drama korea juga beragam. Selain percintaan, ada juga yang genrenya fantasi, thriller hingga misteri. Dari semua genre, aku paling suka genre romantic comedy atau yang sering disingkat romcom. Aku juga suka drama yang bertemakan healing, yang biasanya berlatarbelakang di pedesaan. Sungguh menghibur ibu-ibu seperti saya yang sehari-harinya sudah ada stress dengan urusan rumah atau anak. Drama ini juga banyak yang relate dengan kehidupan, seperti kehidupan pekerjaan, pernikahan dan lainnya.

Sekarang, dengan kemajuan teknologi menonton drama juga lebih mudah. Dahulu aku harus mencari dvd bajakan di tempat yang lumayan jauh. Mau bagaimana lagi, karena tidak tersedia di tempat lain, kalau mencari original pasti mahal sekali. Sekarang, untuk menonton drakor hanya tinggal berlangganan platform streaming di HP atau di televisi. Pilihan dramanya pun banyak sekali. Sungguh memanjakan pecinta drama.

Yang paling repot jika sudah menonton drama korea yang ceritanya seru. Rasanya sulit sekali buat berhenti. 16 episode bisa dilahap dalam beberapa hari saja. Untuk menyiasatinya, ketika sedang sibuk aku hanya menonton drama yang sedang tayang. Hal ini kulakukan untuk menghindari marathon nonton drama, bisa gawat kalau sampai keteteran melakukan pekerjaan atau mengasuh anak. Yang paling penting bagi ibu-ibu adalah mengatur waktu antara tanggung jawabnya, baru bisa melakukan hobinya, seperti aku yang suka menonton drama. Hehe.





Comments

Popular posts from this blog

Aku dan perjuanganku di ITB

  Institut Teknologi Bandung merupakan kampus impian bagi banyak orang. Bagiku yang saat itu sedang SMA, masuk ITB juga merupakan hal yang aku impikan. Selain itu, ada beberapa kampus yang juga aku impikan. Mungkin karena aku masih SMA, masih remaja dan kadang labil dalam memilih tempat kuliah. Hari ini ingin kuliah farmasi, besok ingin sastra jepang, besoknya lagi ingin kuliah teknik. Pada akhirnya aku mengikuti beberapa ujian masuk kuliah di beberapa universitas untuk meningkatkan peluang masuk. Salah satu fakultas yang kuincar di ITB adalah SAPPK yang merupakan singkatna dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan. Awalnya aku ingin masuk fakultas ini karena kedua orangtuaku berprofesi sebagai arsitek dan perencana kota. Aku melihat kedua orangtuaku sebagai role model untuk pekerjaanku kelak. Namun, saat itu aku lebih tertarik menjadi arsitek karena senang melihat rumah yang bagus dari majalah-majalah milik ibuku. Dengan berbekal kerja keras mengikuti bi...

Keluarga yang lengkap

Pada lebaran kemarin, suasana terasa begitu menyenangkan. Namun di balik itu, lebaran ini adalah lebaran pertama setelah aku resmi bercerai. Rasanya tentu berbeda dengan lebaran tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya aku masih menjalani sidang perceraian dan merasa kalut. Sekarang, rasanya lebih lega meski ada suatu hal yang hilang. Memiliki keluarga yang lengkap adalah impianku. Aku ingat saat sedang ikut training potensi diri aku harus menggambarkan impianku, dan yang kugambarkan adalah pernikahan, S2 di Belanda dan menjadi dosen. Di usia setelah lulus kuliah aku telah memimpikan hal-hal yang besar untuk hidupku. Ketiga hal tersebut aku perjuangkan meski susah payah dan harus menempuh jalan berliku. Akhirnya aku bisa S2 di Belanda, meski harus apply beasiswa berkali-kali. Sayangnya pernikahan berakhir pada tahun kelima. Aku masih bermimpi ingin menjadi dosen, dan masih meniti jalan menuju hal tersebut. Kembali lagi tentang keluarga, aku pikir aku adalah family woman, yang mengutamakan ke...

Masa remajaku yang penuh lika-liku

Remaja, kata orang merupakan masanya pencarian jati diri. Aku sendiri juga merasakannya. Setelah mengenyam Pendidikan SD dan SMP di sekolah Islam, akhirnya aku merasakan sekolah di SMA Negeri. Ini merupakan syarat dari orang tuaku, harus bersekolah islam dahulu baru boleh masuk sekolah negeri agar lebih memahami agama dan mungkin agar tidak salah pergaulan. Maklum, aku tinggal di kota Bandung, kota besar dengan berbagai macam orangnya. Maka perjalananku masuk SMA dimulai. Aku masuk SMA dengan niat belajar dan beraktivitas. Aktivitasku di sekolah Islam sebelumnya lebih terbatas. Hanya ada beberapa ekstrakulikuler pilihan dan satu ekstrakulikuler wajib yaitu paskibra. Karena itu, aku merasa penasaran dengan bagaimana sekolah di sekolah negeri. Saat pertama kali masuk SMA, aku hanya memiliki beberapa orang teman dari SMP yang sama. Jujur aku merasa kaget saat melihat teman-teman baru yang lebih beragam di sekolah. Dahulu temanku semuanya berkerudung, dan yang laki-laki juga cukup baik...