Skip to main content

Berkenalan dengan Batagor, makanan khas Bandung

Sudah puluhan tahun aku tinggal di kota ini. Kota Bandung tercinta, meski bukan tempatku lahir, tapi merupakan tempatku menuntut ilmu sejak SD hingga kuliah. Dari kota kenangan ini, banyak sekali makanan enak yang kuingat. Makanan dari Kota Bandung ada bermacam-macam jenisnya, mulai dari yang gurih hingga manis. Ada juga makanan berat hingga camilan yang dapat disantap. Yang paling terkenal di antaranya adalah batagor, cuanki, mie kocok, surabi dan lainnya.

Dari semua jenis makanan, yang paling kusukai adalah batagor. Mari mengenal batagor lebih jauh melalui tulisan ini. Bakso tahu goreng, alias batagor adalah makanan khas Bandung yang cukup populer, dan diketahui oleh warga Bandung hingga masyarakat dari luar Bandung. Sesuai namanya, batagor adalah olahan bakso tahu yang digoreng, kemudian dilumuri dengan saus kacang dan kecap manis. Batagor jenis ini yang paling populer di Bandung, dan dijual di berbagai tempat mulai dari restaurant hingga di mang-mang yang lewat di depan rumah.

Namun, sekarang mulai dikenal juga batagor dengan varian lain, yaitu batagor kuah. Batagor kuah disajikan dengan tambahan kuah, biasanya berupa kuah kaldu yang gurih. Rasanya seperti kuah bakso, ditambah dengan tambahan bawang goreng dan daun seledri. Batagor jenis kuah ini sangat enak dan cocok dimakan saat cuaca sedang hujan.

Dari beberapa tempat batagor di Kota Bandung, yang paling kusukai adalah Batagor Burangrang. Lokasinya ada di jalan Burangrang, di seberang sekolah BPI Burangrang. Kisaran harga di tempat ini adalah sekitar 15 ribu rupiah per pieces. Memang agak mahal, karena batagor yang dijual potongannya cukup besar, bukan seperti batagor yang dijual di gerobak. Ibuku sering beli di sini jika akan pergi ke luar kota dan ingin membawa oleh-oleh.

Untuk batagor kuah, yang kusukai justru batagor yang dijual di gerobak. Yang paling aku sukai ada di depan RSGM Unpad. Beberapa waktu lalu aku sempat perawatan gigi di sini, jadi sering beli batagor kuah di depannya.

Sebagai orang Bandung, aku sangat bangga dengan makanan khas Bandung, terutama batagor, salah satu makanan kesukaanku ini. Aku harap makin banyak orang yang mengenal kuliner khas Bandung ini.

Batagor (sumber: Kompas.com)


Comments

Popular posts from this blog

Aku dan perjuanganku di ITB

  Institut Teknologi Bandung merupakan kampus impian bagi banyak orang. Bagiku yang saat itu sedang SMA, masuk ITB juga merupakan hal yang aku impikan. Selain itu, ada beberapa kampus yang juga aku impikan. Mungkin karena aku masih SMA, masih remaja dan kadang labil dalam memilih tempat kuliah. Hari ini ingin kuliah farmasi, besok ingin sastra jepang, besoknya lagi ingin kuliah teknik. Pada akhirnya aku mengikuti beberapa ujian masuk kuliah di beberapa universitas untuk meningkatkan peluang masuk. Salah satu fakultas yang kuincar di ITB adalah SAPPK yang merupakan singkatna dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan. Awalnya aku ingin masuk fakultas ini karena kedua orangtuaku berprofesi sebagai arsitek dan perencana kota. Aku melihat kedua orangtuaku sebagai role model untuk pekerjaanku kelak. Namun, saat itu aku lebih tertarik menjadi arsitek karena senang melihat rumah yang bagus dari majalah-majalah milik ibuku. Dengan berbekal kerja keras mengikuti bi...

Keluarga yang lengkap

Pada lebaran kemarin, suasana terasa begitu menyenangkan. Namun di balik itu, lebaran ini adalah lebaran pertama setelah aku resmi bercerai. Rasanya tentu berbeda dengan lebaran tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya aku masih menjalani sidang perceraian dan merasa kalut. Sekarang, rasanya lebih lega meski ada suatu hal yang hilang. Memiliki keluarga yang lengkap adalah impianku. Aku ingat saat sedang ikut training potensi diri aku harus menggambarkan impianku, dan yang kugambarkan adalah pernikahan, S2 di Belanda dan menjadi dosen. Di usia setelah lulus kuliah aku telah memimpikan hal-hal yang besar untuk hidupku. Ketiga hal tersebut aku perjuangkan meski susah payah dan harus menempuh jalan berliku. Akhirnya aku bisa S2 di Belanda, meski harus apply beasiswa berkali-kali. Sayangnya pernikahan berakhir pada tahun kelima. Aku masih bermimpi ingin menjadi dosen, dan masih meniti jalan menuju hal tersebut. Kembali lagi tentang keluarga, aku pikir aku adalah family woman, yang mengutamakan ke...

Masa remajaku yang penuh lika-liku

Remaja, kata orang merupakan masanya pencarian jati diri. Aku sendiri juga merasakannya. Setelah mengenyam Pendidikan SD dan SMP di sekolah Islam, akhirnya aku merasakan sekolah di SMA Negeri. Ini merupakan syarat dari orang tuaku, harus bersekolah islam dahulu baru boleh masuk sekolah negeri agar lebih memahami agama dan mungkin agar tidak salah pergaulan. Maklum, aku tinggal di kota Bandung, kota besar dengan berbagai macam orangnya. Maka perjalananku masuk SMA dimulai. Aku masuk SMA dengan niat belajar dan beraktivitas. Aktivitasku di sekolah Islam sebelumnya lebih terbatas. Hanya ada beberapa ekstrakulikuler pilihan dan satu ekstrakulikuler wajib yaitu paskibra. Karena itu, aku merasa penasaran dengan bagaimana sekolah di sekolah negeri. Saat pertama kali masuk SMA, aku hanya memiliki beberapa orang teman dari SMP yang sama. Jujur aku merasa kaget saat melihat teman-teman baru yang lebih beragam di sekolah. Dahulu temanku semuanya berkerudung, dan yang laki-laki juga cukup baik...