Skip to main content

Memasak dan Membuat Kue bersama Ziyad

Aku punya anak berumur enam tahun, namanya Ziyad. Meski dia anak berkebutuhan khusus, aku terkadang melibatkannya dalam kegiatan rumah tangga, salah satunya memasak dan membuat kue.

Aku suka memasak makanan yang sehat. Salah satunya adalah ikan dori. Selain sehat, ikan dori ini juga mudah dibuat. Karena Ziyad dapat tugas sekolah untuk memasak, akhirnya kami memasak makanan ini bersama.

Dari memasak ikan dori ini, anakku belajar cara memberi tepung pada ikan. Ikan juga diberi bumbu seperti garam dan merica. Setelah itu, aku menggoreng ikan dengan minyak tipis. Ziyad juga ikut membantu membalikan ikan di wajan, meski aku masih membantunya juga. Ternyata jadinya enak sekali. Bahkan akhirnya ikan ini dibawa menjadi bekal Ziyad. Ia juga menyukainya dan memakannya sampai habis. Alhamdulilllah.

Beberapa waktu lalu, akhirnya aku mengajak Ziyad untuk membuat kue bersamaku. Aku senang membuat kue dan sering melihat tutorialnya di YouTube. Sudah beberapa resep kue yang aku coba dan alhamdulillah berhasil. Kue yang aku suka buat di antaranya adalah Kaastangels, kue putri salju dan kue chocolate chips.

Kemudian, aku mencoba mengajaknya membuat kue yang mudah. Dengan membuat kue bersama, anak dapat berlatih menggunakan alat-alat dapur dan meningkatkan bonding dengan ibu.

Akhirnya kami membuat chocolate chips cookies bersama. Aku mencari resep kue ini dari buku resep dari Tintin Rayner, pembuat kue yang aku suka lihat di Instagram. Pertama, aku menyiapkan bahannya agar mudah dibuat bersama. Selanjutnya aku membantu Ziyad untuk menuangkan bahan kue dan memecahkan telur. Kemudian kami mencampur adonan bersama dengan menggunakan whisk.

Selanjutnya aku yang melanjutkan mengaduk adonannya, mencetak dan memanggangnya. Ziyad ikut melihat pembuatannya. Ketika jadi, kami senang sekali karena berhasil membuat kue bersama. Dia juga ikut mencicipi kue yang telah dibuat bersama. Selain chocochips cookies, ia juga menyukai almond crispy cookies yang aku buat. Aku berencana mau membuat kue, mau mengajak Ziyad lagi. Semoga kami bisa sering memasak dan membuat kue bersama.

Comments

Popular posts from this blog

Aku dan perjuanganku di ITB

  Institut Teknologi Bandung merupakan kampus impian bagi banyak orang. Bagiku yang saat itu sedang SMA, masuk ITB juga merupakan hal yang aku impikan. Selain itu, ada beberapa kampus yang juga aku impikan. Mungkin karena aku masih SMA, masih remaja dan kadang labil dalam memilih tempat kuliah. Hari ini ingin kuliah farmasi, besok ingin sastra jepang, besoknya lagi ingin kuliah teknik. Pada akhirnya aku mengikuti beberapa ujian masuk kuliah di beberapa universitas untuk meningkatkan peluang masuk. Salah satu fakultas yang kuincar di ITB adalah SAPPK yang merupakan singkatna dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan. Awalnya aku ingin masuk fakultas ini karena kedua orangtuaku berprofesi sebagai arsitek dan perencana kota. Aku melihat kedua orangtuaku sebagai role model untuk pekerjaanku kelak. Namun, saat itu aku lebih tertarik menjadi arsitek karena senang melihat rumah yang bagus dari majalah-majalah milik ibuku. Dengan berbekal kerja keras mengikuti bi...

Keluarga yang lengkap

Pada lebaran kemarin, suasana terasa begitu menyenangkan. Namun di balik itu, lebaran ini adalah lebaran pertama setelah aku resmi bercerai. Rasanya tentu berbeda dengan lebaran tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya aku masih menjalani sidang perceraian dan merasa kalut. Sekarang, rasanya lebih lega meski ada suatu hal yang hilang. Memiliki keluarga yang lengkap adalah impianku. Aku ingat saat sedang ikut training potensi diri aku harus menggambarkan impianku, dan yang kugambarkan adalah pernikahan, S2 di Belanda dan menjadi dosen. Di usia setelah lulus kuliah aku telah memimpikan hal-hal yang besar untuk hidupku. Ketiga hal tersebut aku perjuangkan meski susah payah dan harus menempuh jalan berliku. Akhirnya aku bisa S2 di Belanda, meski harus apply beasiswa berkali-kali. Sayangnya pernikahan berakhir pada tahun kelima. Aku masih bermimpi ingin menjadi dosen, dan masih meniti jalan menuju hal tersebut. Kembali lagi tentang keluarga, aku pikir aku adalah family woman, yang mengutamakan ke...

Masa remajaku yang penuh lika-liku

Remaja, kata orang merupakan masanya pencarian jati diri. Aku sendiri juga merasakannya. Setelah mengenyam Pendidikan SD dan SMP di sekolah Islam, akhirnya aku merasakan sekolah di SMA Negeri. Ini merupakan syarat dari orang tuaku, harus bersekolah islam dahulu baru boleh masuk sekolah negeri agar lebih memahami agama dan mungkin agar tidak salah pergaulan. Maklum, aku tinggal di kota Bandung, kota besar dengan berbagai macam orangnya. Maka perjalananku masuk SMA dimulai. Aku masuk SMA dengan niat belajar dan beraktivitas. Aktivitasku di sekolah Islam sebelumnya lebih terbatas. Hanya ada beberapa ekstrakulikuler pilihan dan satu ekstrakulikuler wajib yaitu paskibra. Karena itu, aku merasa penasaran dengan bagaimana sekolah di sekolah negeri. Saat pertama kali masuk SMA, aku hanya memiliki beberapa orang teman dari SMP yang sama. Jujur aku merasa kaget saat melihat teman-teman baru yang lebih beragam di sekolah. Dahulu temanku semuanya berkerudung, dan yang laki-laki juga cukup baik...