Skip to main content

Perencanaan THR di Hari Raya

Mendekati hari raya, setiap pekerja wajib mendapatkan tunjangan hari raya dari kantornya. Besarnya berbeda-beda sesuai dengan kebijakan kantor tersebut. THR pada umumnya diberikan kantor kepada karyawannya, namun selain itu di masyarakat THR juga diberikan anggota keluarga kepada kerabat dekat, bahkan juga anak kecil. Meski terlihat banyak, kadang THR ini cepat sekali ludesnya. Agar THR ini dapat terencana dengan baik, perlu perencanaan keuangan yang matang.

THR memiliki  beberapa fungsi untuk keuangan keluarga. Dilansir dari liputan 6, fungsi THR di antaranya menjadi modal keperluan mudik, biaya keperluan lebaran dan dana tambahan untuk liburan. Sungguh banyak manfaat yang dapat diambil dari THR. Bahkan, THR dapat menjadi sumber keuangan untuk pembelian bahan pokok.

Bagi yang memiliki gaji tetap, THR dapat diperkirakan lebih dahulu karena sudah ada perhitungannya. Namun, bagi pekerja yang tidak tetap sepertiku, THR tidak tentu jumlahnya. Maka dari itu, harus ada pencatatan yang rapih jika ada uang yang masuk, agar bisa diketahui jumlah yang masuk. Selain itu, bagi seorang ibu, kadang ada juga yang memberikan THR untuk anak. Uang anak, menurutku adalah hak anak. Maka uang tersebut harus dipisah penyimpanannya agar tidak terpakai untuk keperluan harian. Juga dipisah dengan THR orang tua.

Setelah sumber uang dicatat, harus dialokasikan anggaran belanjanya. Misalnya THR dari kantor untuk keperluan apa saja. Dari pengalamanku sendiri, karena aku belum bekerja tetap maka THR yang didapat masih terbatas jadi hanya kugunakan untuk keperluan lebaran. Keperluan lebaran yang dimaksud di antaranya baju lebaran, mukena dan untuk memberi ke orang lain. Sedangkan THR untuk anak digunakan untuk keperluan anak di hari lebaran atau juga barang-barang kesukaan anak. Karena anakku kemarin butuh piyama baru, maka aku belikan piyama dan beberapa keperluan lain.

Dari tulisan di atas, dapat dilihat bahwa perencanaan THR sangat membantu seseorang untuk menghadapi hari raya. Jika dikelola dengan baik, maka akan sangat membantu meringankan keuangan kita. Semoga kita bisa bijak mengelola THR, dan selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri!

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Aku dan perjuanganku di ITB

  Institut Teknologi Bandung merupakan kampus impian bagi banyak orang. Bagiku yang saat itu sedang SMA, masuk ITB juga merupakan hal yang aku impikan. Selain itu, ada beberapa kampus yang juga aku impikan. Mungkin karena aku masih SMA, masih remaja dan kadang labil dalam memilih tempat kuliah. Hari ini ingin kuliah farmasi, besok ingin sastra jepang, besoknya lagi ingin kuliah teknik. Pada akhirnya aku mengikuti beberapa ujian masuk kuliah di beberapa universitas untuk meningkatkan peluang masuk. Salah satu fakultas yang kuincar di ITB adalah SAPPK yang merupakan singkatna dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan. Awalnya aku ingin masuk fakultas ini karena kedua orangtuaku berprofesi sebagai arsitek dan perencana kota. Aku melihat kedua orangtuaku sebagai role model untuk pekerjaanku kelak. Namun, saat itu aku lebih tertarik menjadi arsitek karena senang melihat rumah yang bagus dari majalah-majalah milik ibuku. Dengan berbekal kerja keras mengikuti bi...

Keluarga yang lengkap

Pada lebaran kemarin, suasana terasa begitu menyenangkan. Namun di balik itu, lebaran ini adalah lebaran pertama setelah aku resmi bercerai. Rasanya tentu berbeda dengan lebaran tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya aku masih menjalani sidang perceraian dan merasa kalut. Sekarang, rasanya lebih lega meski ada suatu hal yang hilang. Memiliki keluarga yang lengkap adalah impianku. Aku ingat saat sedang ikut training potensi diri aku harus menggambarkan impianku, dan yang kugambarkan adalah pernikahan, S2 di Belanda dan menjadi dosen. Di usia setelah lulus kuliah aku telah memimpikan hal-hal yang besar untuk hidupku. Ketiga hal tersebut aku perjuangkan meski susah payah dan harus menempuh jalan berliku. Akhirnya aku bisa S2 di Belanda, meski harus apply beasiswa berkali-kali. Sayangnya pernikahan berakhir pada tahun kelima. Aku masih bermimpi ingin menjadi dosen, dan masih meniti jalan menuju hal tersebut. Kembali lagi tentang keluarga, aku pikir aku adalah family woman, yang mengutamakan ke...

Masa remajaku yang penuh lika-liku

Remaja, kata orang merupakan masanya pencarian jati diri. Aku sendiri juga merasakannya. Setelah mengenyam Pendidikan SD dan SMP di sekolah Islam, akhirnya aku merasakan sekolah di SMA Negeri. Ini merupakan syarat dari orang tuaku, harus bersekolah islam dahulu baru boleh masuk sekolah negeri agar lebih memahami agama dan mungkin agar tidak salah pergaulan. Maklum, aku tinggal di kota Bandung, kota besar dengan berbagai macam orangnya. Maka perjalananku masuk SMA dimulai. Aku masuk SMA dengan niat belajar dan beraktivitas. Aktivitasku di sekolah Islam sebelumnya lebih terbatas. Hanya ada beberapa ekstrakulikuler pilihan dan satu ekstrakulikuler wajib yaitu paskibra. Karena itu, aku merasa penasaran dengan bagaimana sekolah di sekolah negeri. Saat pertama kali masuk SMA, aku hanya memiliki beberapa orang teman dari SMP yang sama. Jujur aku merasa kaget saat melihat teman-teman baru yang lebih beragam di sekolah. Dahulu temanku semuanya berkerudung, dan yang laki-laki juga cukup baik...