Skip to main content

Bulan kelima

Halo.. di hari yang mendung ini akhirnya saya menulis blog lagi
Hari ini adalah deadline paper exam untuk kelas saya, jadi hari ini tidak ada kuliah. Sebenarnya hampir setap hari jumat kelas saya libur, yang sebenarnya sangat menyenangkan.Sekarang memasuki bulan kelima saya tinggal di Rotterdam, Belanda. Sudah bulan kelima, sejauh ini saya heran kenapa saya jarang homesick. Dulu saya pernah KP selama kurang dari tiga bulan di Jakarta dan hampir setiap minggu pulang ke Bandung. Maklum, anak rumahan banget. Mungkin kangen rumah terobati karena kakak saya tinggal di Ghent, Belgia yang jaraknya dua setengah jam dari sini dan saya sudah tiga kali pergi ke sana. Tiap weekend juga selalu line video dengan keluarga di Bandung.

Awal-awal saya tinggal di sini banyak adaptasi yang saya harus lakukan. Beberapa bulan pertama saya sempat stress, karena gak bisa belajar. Tempat yang saya tinggali ternyata di pinggir jalan, dan saya baru tau setelah datang ke sini. Suara orang, mobil, tram kedengeran sekali dari kamar saya. Yang paling kedengeran suara tram, dengan belnya setiap kali datang. Padahal haltenya di depan sekali apartemen saya jadi frekuensi kedatangannya sangat sering. Setiap belajar saya harus pakai headset, dan sering kebangun tengah malam karena suara orang-orang yang mengobrol dengan suara keras atau berteriak entah karena mabuk atau apa.

Akhirnya saya pindah ke dorm di kampus, yang awalnya memang ditawarkan untuk penerima beasiwa NFP. Memang agak lebih mahal, dan jauh darimana-mana terutama centrum. Kamar di Rotterdam memang cukup mahal dibanding kota-kota lain, standarnya 400-600 euro sebulan. Tapi suasananya sangat nyaman, dan kamarnya pun sangat nyaman. Dengan harga yang ditawarkan, ke tempat kuliah tinggal jalan, dapur di dalam dan kamar yang luas. Sebelumnya untuk menuju kampus saya harus spare waktu 40 menit untuk naik tram dan 30 menit kalau naik sepeda. Terutama untuk belajar, sama sekali tidak ada kesulitan karena di sini sepi di bagian belakang kampus. Oh ya, untuk nyuci di sini gratis, ada beberapa tempat yang harus bayar. Tapi karena 1 mesin cuci dipakai bisa untuk 20 kamar, mesin cucinya selalu ngantri. Akhirnya saya selalu nyuci pagi-pagi sekitar jam 6 di saat semua orang sedang tidur.

Saya juga sekarang punya kegiatan rutin. Karena jauh dari centrum, sekitar 10-15 menit naik sepeda dan cuaca di sini juga g tentu, kalau g perlu-perlu banget saya memilih untuk gak keluar. Di kampus, saya daftar erasmus sport hingga akhir masa kuliah. Ada berbagai macam olahraga, yoga, pilates, zumba, calanetics dll. Harganya terjangkau dibandingkan yoga, pilates di Bandung yang sekali datang 50rb. Di sini, saya bayar 109 euro sekali dan bisa datang sampai 3-4x seminggu dan ikut berbagai macam kelas body fit. Apalagi erasmus sport sangat dekat dari dorm dan itu jadi semacam hiburan gratis bagi saya dan juga sehat. Selain itu saya juga ikut kursus bahasa Belanda. Meskipun di sini hampir semua orang bisa bahasa inggris, tapi ini merupakan kesempatan yang baik karena saya sedang tinggal di sini dan bisa mempraktekan langsung. Saat ini baru dua kali pertemuan, dan sangat menyenangkan karena bisa mengisi waktu dan juga bertemu orang-orang lain selain IHS.

Cerita hari ini mungkin cukup sekian dulu, masih banyak yang mau diceritakan dan akan saya lanjutkan di post berikutnya :)

Comments

Anonymous said…
Hi,

Saya sedang mempersiapkan untuk kuliah di Ghent agustus 2018 depan.. karena saya dan suami nantinya sama2 kul (dia juga akan kuliah di univ yg sama - self funding), saya sedang mencari flat/apartemen di ghent yang affordable tapi nerima anak kecil (anak kami).. boleh minta info/japri untuk ke mba atau kaka mba yang di ghent? akan sangat membantu sekali apabila bisa diskusi dengan yang sudah tinggal di ghent..

thank you mbaa.. sukses ya buat kuliahnya :)

-rani

Popular posts from this blog

Aku dan perjuanganku di ITB

  Institut Teknologi Bandung merupakan kampus impian bagi banyak orang. Bagiku yang saat itu sedang SMA, masuk ITB juga merupakan hal yang aku impikan. Selain itu, ada beberapa kampus yang juga aku impikan. Mungkin karena aku masih SMA, masih remaja dan kadang labil dalam memilih tempat kuliah. Hari ini ingin kuliah farmasi, besok ingin sastra jepang, besoknya lagi ingin kuliah teknik. Pada akhirnya aku mengikuti beberapa ujian masuk kuliah di beberapa universitas untuk meningkatkan peluang masuk. Salah satu fakultas yang kuincar di ITB adalah SAPPK yang merupakan singkatna dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan. Awalnya aku ingin masuk fakultas ini karena kedua orangtuaku berprofesi sebagai arsitek dan perencana kota. Aku melihat kedua orangtuaku sebagai role model untuk pekerjaanku kelak. Namun, saat itu aku lebih tertarik menjadi arsitek karena senang melihat rumah yang bagus dari majalah-majalah milik ibuku. Dengan berbekal kerja keras mengikuti bi...

Keluarga yang lengkap

Pada lebaran kemarin, suasana terasa begitu menyenangkan. Namun di balik itu, lebaran ini adalah lebaran pertama setelah aku resmi bercerai. Rasanya tentu berbeda dengan lebaran tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya aku masih menjalani sidang perceraian dan merasa kalut. Sekarang, rasanya lebih lega meski ada suatu hal yang hilang. Memiliki keluarga yang lengkap adalah impianku. Aku ingat saat sedang ikut training potensi diri aku harus menggambarkan impianku, dan yang kugambarkan adalah pernikahan, S2 di Belanda dan menjadi dosen. Di usia setelah lulus kuliah aku telah memimpikan hal-hal yang besar untuk hidupku. Ketiga hal tersebut aku perjuangkan meski susah payah dan harus menempuh jalan berliku. Akhirnya aku bisa S2 di Belanda, meski harus apply beasiswa berkali-kali. Sayangnya pernikahan berakhir pada tahun kelima. Aku masih bermimpi ingin menjadi dosen, dan masih meniti jalan menuju hal tersebut. Kembali lagi tentang keluarga, aku pikir aku adalah family woman, yang mengutamakan ke...

Jalan-jalan ke korea: Membuat Visa Korea Selatan (1)

Jadi aku memutuskan untuk menulis tentang perjalanan ke korea ini, honestly I'm so excited! pergi ke korea 10 hari dengan rute perjalanan Busan - Jeonju - Seoul. Aku pergi dengan mamahku, bu adjar (teman mamah) dan di Korea ada adikku yang lagi exchange selama satu tahun dan kuliah di seoul. Pemesanan tiket selesai (airasia.com), karena kami memutuskan untuk kemana-mana sendiri dan tidak memakai travel, begitu ada tiket promo ke Busan, akhirnya kami beli. Tiket pesawat ke Busan hanya 1,2 juta rupiah, ditambah bagasi dll jadi sekitar 1,5 juta rupiah. Untuk pulangnya, kami belum pesan dulu karena belum menentukan pulangnya kapan awalnya, dan belum dapat tiket promo yang murah dari seoul, dan akhirnya pas udah deket sekarang harus beli, dan dapat tiket seharga 2,5 juta rupiah belum dengan bagasi, dari Seoul. Untuk hotel kita pesen dari booking.com, di Busan di Hansung Motel Busan dan untuk di Seoul di Hongdae Uncle Seoul. Kita sengaja cari yang murmer karena ingin banyak jalan-jalan ...