Skip to main content

Posts

Apply Pekerjaan?

Aku memutuskan untuk memulai karir kembali sejak tahun lalu menjadi single mom. Tadinya aku merasa cukup jadi ibu rumah tangga saja, dan mengasuh anak. Itu saja sudah repot sekali. Tapi karena aku harus mencari nafkah, aku memutuskan untuk mencari pekerjaan untuk membiayai diri dan anakku. Aku dulunya ibu rumah tangga biasa yang pikirannya mengurus anak dan bersih-bersih rumah. Sekarang kondisi menuntutku untuk menjadi kepala keluarga. Untungnya sebelum aku menikah aku pernah bekerja dan kuliah master, sehingga menjadi modal awal dan CVku tidak kosong-kosong amat. Aku juga tidak terlalu kaget dengan bagaimana harus bekerja, meski dahulu kerjaku kebanyakan freelance proyek. Tahun ini, aku sudah beberapa kali melamar kerja. Belum sampai tidak terhitung. Yang sudah lolos ke tahap interview hanya dua, dan kulakukan sebisa mungkin dengan pengalamanku yang masih minim. Tapi belum rezeki ternyata. Email penolakan memang tidak diterima, tapi tidak dikabari jika tidak lolos tahap lebih la...

Liburan kali ini

Akhirnya hari ini liburan akhir tahun ajaran sudah selesai. Liburan ini lebih lama dari biasanya, yang paling lama sebelum ini adalah libur lebaran sekitar dua minggu. Libur kenaikan kelas ini lamanya sekitar sebulan. Sungguh liburan yang panjang dan melelahkan. Mungkin karena aku baru punya anak satu, dan baru mengalami liburan seperti ini. Sejak awal liburan, aku tidak merencanakan macam-macam untuk anakku. Hanya beberapa hal untuk dipelajari. Aku juga mengambil proyek dalam bidangku, jadi cukup sibuk. Ini juga merupakan proyek pertamaku setelah lama mengasuh anak, makanya aku perlu adaptasi lagi dalam bekerja. Dahulu aku suka mengerjakan proyek, kadang dua proyek sekali waktu. Mungkin karena aku masih muda ya jadi masih kuat dan banyak waktu. Kembali lagi ke liburan, aku berusaha untuk melakukan double job sebagai ibu dan bekerja dalam satu waktu. Bedanya dengan saat sekolah, aku punya waktu luang untuk mengerjakan pekerjaan saat anak sekolah. Saat liburan ini, aku harus membagi wak...

Akhir tahun ajaran Ziyad

Sebagai seorang ibu yang memiliki anak satu, banyak kebersyukuran yang saya rasakan. Pada hari Rabu, 21 Juni kemarin Ziyad bagi rapor untuk akhir tahun. Sudah beberapa kali saya mengambil rapor untuk anak saya, kadang sendiri, kadang dengan ibu saya. Di pembagian rapor ini, haru biru yang saya rasakan. Melihat anak saya yang awal masuk TK tantrum begitu ada puzzle hilang satu bagian. Sekarang katanya sudah tidak pernah tantrum di sekolah. Hanya kadang-kadang rewel saja. Yang dulunya cuek, ada anak lain hanya melengos begitu saja, sekarang sudah mulai ada interaksi dengan temannya. Sudah mulai bermain bareng, berpegangan tangan, dan lainnya. Saya sendiri juga bangga dengan diri saya, karena berhasil mengantarkan Ziyad hingga setahun ini sekolah. Tentunya dengan dukungan keluarga. Keluarga saya sangat mendukung pembelajaran Ziyad dalam segala halnya, terutama dalam hal terapi. Tapi dari segi emosi, saya sebagai ibu sudah sangat membaik. Saya dahulu minder dengan keadaannya, sekarang mera...

Keluarga yang lengkap

Pada lebaran kemarin, suasana terasa begitu menyenangkan. Namun di balik itu, lebaran ini adalah lebaran pertama setelah aku resmi bercerai. Rasanya tentu berbeda dengan lebaran tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya aku masih menjalani sidang perceraian dan merasa kalut. Sekarang, rasanya lebih lega meski ada suatu hal yang hilang. Memiliki keluarga yang lengkap adalah impianku. Aku ingat saat sedang ikut training potensi diri aku harus menggambarkan impianku, dan yang kugambarkan adalah pernikahan, S2 di Belanda dan menjadi dosen. Di usia setelah lulus kuliah aku telah memimpikan hal-hal yang besar untuk hidupku. Ketiga hal tersebut aku perjuangkan meski susah payah dan harus menempuh jalan berliku. Akhirnya aku bisa S2 di Belanda, meski harus apply beasiswa berkali-kali. Sayangnya pernikahan berakhir pada tahun kelima. Aku masih bermimpi ingin menjadi dosen, dan masih meniti jalan menuju hal tersebut. Kembali lagi tentang keluarga, aku pikir aku adalah family woman, yang mengutamakan ke...

Autism Mom

Notes: post ini mungkin mengandung stress Anakku didiagnosa autism spectrum disorder (ASD) pada usia 2 tahun. Sebagai ibunya, muncul ketakutan yang langsung muncul dalam diriku. Alih-alih menerima, aku malah tenggelam dalam ketakutanku tersebut. Aku berdiam diri di rumah berhari-hari. Penerimaanku tidak baik sehingga mendengarkan kata autis saja aku langsung menangis. Akhirnya setelah sekian lama, emosiku membaik dan akhirnya anakku bisa diterapi. Sudah berapa kali assesment dilakukan dan hasilnya tetap sama. Pernah di suatu yayasan klinik tumbuh kembang anak, anakku konsultasi dengan psikolog anak dan malah diketahui aku yang tidak beres dengan diriku sehingga bonding dengan anak tidak kuat. Akhirnya aku beberapa kali ikut sesi konsultasi dengan psikolog di sana. Memiliki anak autis memang tidak mudah, meski sekarang anakku sudah lima tahun kadang aku merasa tidak sanggup. Aku berjuang melawan persepsi di diriku tentang autis.  Berdasarkan Kemenpppa penyandang autisme laki-laki di...

Mengajar kembali

Saya memiliki cita-cita ingin menjadi dosen. Mungkin saya melihat bapak saya, karena bapak saya seorang dosen. Jurusan saya juga sama dengan bapak saya. Dahulu saya melihat bapak saya sering pergi ke luar kota untuk bekerja. Lalu saya ingin juga jalan-jalan. Saya pikir ke luar kota untuk jalan-jalan, maklum masih sekolah. Tapi sekarang saya tahu bekerja dalam bidang ini bagaimana sedikit-sedikit. Beberapa tahun ini saya sedang berpikir, apa yang bisa saya bisa. Saya pernah coba jualan gamis, buku anak, kaos kaki, dan yang pasti menjadi ibu rumah tangga biasa dengan harapannya saya merasa bahagia dengan yang saya lakukan. Memang jalan hidup tiap orang berbeda-beda. Ada yang sukses berbisnis, menjadi ibu rumah tangga yang bahagia, dan ada juga yang menjadi working mom. Menikah bukan berarti menghambat produktivitas dan karir. Jika bertemu pasangan yang tepat, dia akan menjadi pendukung nomor satu dari semua keputusan yang diambil. Saya pernah menikah, dan juga sering mendengar berbagai m...

Tentang sosial media saya

Tentang sosial media memang tidak akan habis diulik oleh semua orang. Dari banyak sosial media, saya masih memiliki instagram dan facebook. Sisanya saya delete untuk menjaga kewarasan, serta agar tidak kecanduan sosial media. Dahulu sih saya termasuk salah satu instagram freak. Apalagi ketika kuliah di Belanda. Saya ingat saya beli baju dan coat baru hanya untuk tidak memiliki foto dengan coat yang sama di setiap post instagram. Serta jalan-jalan ke banyak tempat, saya pikir salah satu tujuannya untuk dipamerkan di sosial media. Lama kelamaan saya bosan juga. Mengapa hidup ini seperti ada di dua dunia. Dunia normal dan dunia maya. Ketika ada masalah dengan stres, saya melihat sosial media memang dengan cara yang beda. Iri, stres dan lainnya. Memang hal negatif yang saya ambil ketika saya bermasalah, maka saya memilih untuk rehat sosial media. Delete sosial media supaya anxiety saya tidak tambah parah. Melatih pola pikir agar lebih positif. Dan melatih diri agar bersosialisasi dengan te...