Skip to main content

Posts

Akhir tahun ajaran Ziyad

Sebagai seorang ibu yang memiliki anak satu, banyak kebersyukuran yang saya rasakan. Pada hari Rabu, 21 Juni kemarin Ziyad bagi rapor untuk akhir tahun. Sudah beberapa kali saya mengambil rapor untuk anak saya, kadang sendiri, kadang dengan ibu saya. Di pembagian rapor ini, haru biru yang saya rasakan. Melihat anak saya yang awal masuk TK tantrum begitu ada puzzle hilang satu bagian. Sekarang katanya sudah tidak pernah tantrum di sekolah. Hanya kadang-kadang rewel saja. Yang dulunya cuek, ada anak lain hanya melengos begitu saja, sekarang sudah mulai ada interaksi dengan temannya. Sudah mulai bermain bareng, berpegangan tangan, dan lainnya. Saya sendiri juga bangga dengan diri saya, karena berhasil mengantarkan Ziyad hingga setahun ini sekolah. Tentunya dengan dukungan keluarga. Keluarga saya sangat mendukung pembelajaran Ziyad dalam segala halnya, terutama dalam hal terapi. Tapi dari segi emosi, saya sebagai ibu sudah sangat membaik. Saya dahulu minder dengan keadaannya, sekarang mera...

Keluarga yang lengkap

Pada lebaran kemarin, suasana terasa begitu menyenangkan. Namun di balik itu, lebaran ini adalah lebaran pertama setelah aku resmi bercerai. Rasanya tentu berbeda dengan lebaran tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya aku masih menjalani sidang perceraian dan merasa kalut. Sekarang, rasanya lebih lega meski ada suatu hal yang hilang. Memiliki keluarga yang lengkap adalah impianku. Aku ingat saat sedang ikut training potensi diri aku harus menggambarkan impianku, dan yang kugambarkan adalah pernikahan, S2 di Belanda dan menjadi dosen. Di usia setelah lulus kuliah aku telah memimpikan hal-hal yang besar untuk hidupku. Ketiga hal tersebut aku perjuangkan meski susah payah dan harus menempuh jalan berliku. Akhirnya aku bisa S2 di Belanda, meski harus apply beasiswa berkali-kali. Sayangnya pernikahan berakhir pada tahun kelima. Aku masih bermimpi ingin menjadi dosen, dan masih meniti jalan menuju hal tersebut. Kembali lagi tentang keluarga, aku pikir aku adalah family woman, yang mengutamakan ke...

Autism Mom

Notes: post ini mungkin mengandung stress Anakku didiagnosa autism spectrum disorder (ASD) pada usia 2 tahun. Sebagai ibunya, muncul ketakutan yang langsung muncul dalam diriku. Alih-alih menerima, aku malah tenggelam dalam ketakutanku tersebut. Aku berdiam diri di rumah berhari-hari. Penerimaanku tidak baik sehingga mendengarkan kata autis saja aku langsung menangis. Akhirnya setelah sekian lama, emosiku membaik dan akhirnya anakku bisa diterapi. Sudah berapa kali assesment dilakukan dan hasilnya tetap sama. Pernah di suatu yayasan klinik tumbuh kembang anak, anakku konsultasi dengan psikolog anak dan malah diketahui aku yang tidak beres dengan diriku sehingga bonding dengan anak tidak kuat. Akhirnya aku beberapa kali ikut sesi konsultasi dengan psikolog di sana. Memiliki anak autis memang tidak mudah, meski sekarang anakku sudah lima tahun kadang aku merasa tidak sanggup. Aku berjuang melawan persepsi di diriku tentang autis.  Berdasarkan Kemenpppa penyandang autisme laki-laki di...

Mengajar kembali

Saya memiliki cita-cita ingin menjadi dosen. Mungkin saya melihat bapak saya, karena bapak saya seorang dosen. Jurusan saya juga sama dengan bapak saya. Dahulu saya melihat bapak saya sering pergi ke luar kota untuk bekerja. Lalu saya ingin juga jalan-jalan. Saya pikir ke luar kota untuk jalan-jalan, maklum masih sekolah. Tapi sekarang saya tahu bekerja dalam bidang ini bagaimana sedikit-sedikit. Beberapa tahun ini saya sedang berpikir, apa yang bisa saya bisa. Saya pernah coba jualan gamis, buku anak, kaos kaki, dan yang pasti menjadi ibu rumah tangga biasa dengan harapannya saya merasa bahagia dengan yang saya lakukan. Memang jalan hidup tiap orang berbeda-beda. Ada yang sukses berbisnis, menjadi ibu rumah tangga yang bahagia, dan ada juga yang menjadi working mom. Menikah bukan berarti menghambat produktivitas dan karir. Jika bertemu pasangan yang tepat, dia akan menjadi pendukung nomor satu dari semua keputusan yang diambil. Saya pernah menikah, dan juga sering mendengar berbagai m...

Tentang sosial media saya

Tentang sosial media memang tidak akan habis diulik oleh semua orang. Dari banyak sosial media, saya masih memiliki instagram dan facebook. Sisanya saya delete untuk menjaga kewarasan, serta agar tidak kecanduan sosial media. Dahulu sih saya termasuk salah satu instagram freak. Apalagi ketika kuliah di Belanda. Saya ingat saya beli baju dan coat baru hanya untuk tidak memiliki foto dengan coat yang sama di setiap post instagram. Serta jalan-jalan ke banyak tempat, saya pikir salah satu tujuannya untuk dipamerkan di sosial media. Lama kelamaan saya bosan juga. Mengapa hidup ini seperti ada di dua dunia. Dunia normal dan dunia maya. Ketika ada masalah dengan stres, saya melihat sosial media memang dengan cara yang beda. Iri, stres dan lainnya. Memang hal negatif yang saya ambil ketika saya bermasalah, maka saya memilih untuk rehat sosial media. Delete sosial media supaya anxiety saya tidak tambah parah. Melatih pola pikir agar lebih positif. Dan melatih diri agar bersosialisasi dengan te...

Taman Kiara Artha

Pergi ke taman kota adalah rutinitas kami setiap weekend. Apalagi saya punya anak kecil, yang harus sering bermain di outdoor atau taman. Pasti bosan jika hanya di rumah saja. Sabtu kemarin, kami pergi ke taman Kiara Artha. Letaknya cukup dekat dari rumah. Lokasinya di Kiara Condong. Begitu sampai di tempat, saya melihat banyak orang sedang berolahraga santai. Tiket masuk ke Taman Kiara Artha ini hanya 10.000 rupiah. Begitu masuk saya langsung mengajak Ziyad main ke kolam ikannya. Ziyad senang sekali bermain bersama ikan. Karena kami datang di pagi hari, taman belum terlalu ramai dan matahari belum terlalu terik. Kolamnya cukup besar, katanya untuk jadwal tertentu sering ada pertunjukan air mancur. Sayangnya saat saya datang sedang tidak ada.   Menyusuri taman, makin banyak hal menarik yang ditemukan. Di sekitarnya terdapat persewaan skuter dan sepeda. Pantas di taman banyak yang wara-wiri dengan sepeda. Rata-rata yang datang adalah keluarga, cukup banyak juga yang membawa anak. Me...

Bersyukur di penghujung 2022

Tahun 2022 ini adalah tahun yang baik. Banyak kebaikan yang diberikan Allah kepada saya. Saya belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Menjadi lebih ceria dari biasanya. Karunia Allah yang paling besar kepada saya adalah Ziyad. Saya diberi amanah untuk menjaga Ziyad dan saya juga diberikan hak untuk mengasuh Ziyad. Hal tersebut sungguh saya syukuri. Saya berjanji pada diri saya akan menjadi ibu yang lebih baik lagi. Karena Ziyad anak yang spesial, saya pun yakin saya adalah ibu yang spesial. Spesial sabarnya dan kuat dalam menjaga Ziyad. Bulan ini bulan Oktober, dan bulan depan sudah masuk bulan November. Pada bulan November lima tahun yang lalu saya melahirkan Ziyad. Dan Ziyad sekarang dalam keadaan terus bertumbuh menjadi anak yang lucu dan bahagia. Rasanya saya tidak mau melewatkan sehari pun tanpa Ziyad. Kalau pergi atau berkegiatan pun selalu ingat Ziyad. Inilah rasanya menjadi ibu. Anak selalu ada di hati. Selain itu, saya merasa lebih percaya diri dalam pekerjaan saya. Memang di...